JAKARTA - Lonjakan arus kendaraan pasca berakhirnya pembatasan logistik menjadi sorotan di jalur penyeberangan Jawa ke Bali. Situasi ini terlihat jelas dari meningkatnya kepadatan menuju Pelabuhan Ketapang sejak pagi hingga siang hari.
Pergerakan kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus mengalami peningkatan signifikan. Kondisi tersebut terjadi pada Selasa, 31 Maret 2026, seiring berlanjutnya arus balik Lebaran.
Lonjakan Kendaraan dan Antrean Panjang di Akses Pelabuhan
Hingga pukul 15.00 WIB, antrean kendaraan dari arah utara menuju pelabuhan tercatat mencapai sekitar 12 kilometer. Komposisi kendaraan didominasi oleh truk logistik, disusul bus dan kendaraan pribadi yang akan menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk.
Kondisi kepadatan ini tidak terjadi tanpa sebab, melainkan dipicu oleh perubahan kebijakan sebelumnya. Berakhirnya pembatasan kendaraan logistik sumbu tiga ke atas menjadi faktor utama meningkatnya volume kendaraan.
Kebijakan tersebut sebelumnya diberlakukan melalui Surat Keputusan Bersama lintas instansi pada periode 13 Maret 2026 hingga 29 Maret 2026. Setelah aturan tersebut dicabut, arus kendaraan logistik kembali normal bahkan meningkat tajam.
Situasi ini memperlihatkan besarnya peran kendaraan logistik dalam memengaruhi kepadatan jalur penyeberangan. Selain itu, peningkatan ini juga menjadi indikator tingginya aktivitas distribusi barang pasca Lebaran.
Dampak Peningkatan Truk Logistik terhadap Kepadatan
Yossianis Marciano selaku Wakil Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry menjelaskan bahwa lonjakan truk logistik menjadi faktor dominan dalam antrean panjang tersebut. Ia menegaskan bahwa peningkatan jumlah kendaraan terjadi secara signifikan setelah pembatasan dicabut.
“Pasca berakhirnya pembatasan kendaraan logistik, terjadi peningkatan signifikan truk yang masuk ke Pelabuhan Ketapang. Kondisi ini berdampak pada antrean kendaraan, namun tetap dalam kendali melalui penguatan manajemen operasional di lapangan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Peningkatan jumlah truk logistik ini memberikan tekanan tambahan pada sistem layanan penyeberangan. Meskipun demikian, pihak operator tetap berupaya menjaga kelancaran arus kendaraan.
Kepadatan yang terjadi juga berdampak pada waktu tempuh menuju pelabuhan yang menjadi lebih lama. Hal ini dirasakan oleh berbagai jenis pengguna jasa, baik angkutan barang maupun penumpang.
Namun demikian, kondisi ini masih dapat dikendalikan melalui berbagai strategi yang diterapkan di lapangan. Koordinasi antar pihak menjadi kunci utama dalam menghadapi lonjakan tersebut.
Strategi Penguraian Kepadatan dan Optimalisasi Layanan
Untuk mengurai antrean kendaraan, ASDP bersama regulator dan operator kapal melakukan sejumlah penyesuaian layanan. Langkah ini dilakukan guna menjaga keseimbangan antara kapasitas layanan dan volume kendaraan.
Strategi yang diterapkan meliputi optimalisasi pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB). Selain itu, dilakukan juga penambahan jumlah trip serta armada kapal yang beroperasi di lintasan tersebut.
Pengaturan ritme kendaraan melalui buffer zone juga menjadi bagian penting dari strategi pengendalian arus. Langkah ini bertujuan agar distribusi kendaraan menuju pelabuhan dapat berjalan lebih teratur.
“Kami mengoptimalkan pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB), menambah trip dan armada kapal, serta mengatur ritme kendaraan melalui buffer zone agar arus logistik tetap terlayani dengan baik tanpa mengganggu pengguna jasa lainnya,” tambah Yossianis.
Upaya ini dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan tidak terjadi penumpukan berlebih di area pelabuhan utama. Dengan demikian, pelayanan terhadap pengguna jasa tetap berjalan optimal.
Saat ini, sebanyak 36 kapal dioperasikan di lintasan Ketapang–Gilimanuk untuk mendukung kelancaran penyeberangan. Dari jumlah tersebut, sepuluh kapal menerapkan pola TBB di Dermaga 4 guna mempercepat proses bongkar muat.
Selain armada utama, terdapat enam kapal perbantuan yang turut dikerahkan untuk mengatasi lonjakan kendaraan. Kapal tersebut meliputi Portlink VII, Liputan XII, Dharma Kencana IX, Dharma Rucitra, Karya Maritim II, dan Perkasa Prima V.
Peran Buffer Zone dalam Mengatur Arus Kendaraan
Pengaturan arus kendaraan juga diperkuat melalui optimalisasi buffer zone, khususnya di kawasan Dermaga Bulusan. Area ini difungsikan sebagai penyangga bagi kendaraan logistik sebelum memasuki pelabuhan utama.
Langkah ini dinilai efektif untuk mengurangi kepadatan langsung di area pelabuhan. Selain itu, buffer zone juga membantu mengatur alur kendaraan agar lebih tertib dan terkontrol.
Arief Eko selaku General Manager ASDP Cabang Ketapang menjelaskan bahwa skema buffer zone memiliki dua fungsi utama. Selain menjaga kelancaran arus kendaraan, fasilitas ini juga memberikan waktu istirahat bagi para pengemudi.
“Di Bulusan kami berlakukan dua skema, sebagian kendaraan langsung diberangkatkan melalui dermaga setempat, sementara lainnya dialihkan ke Dermaga LCM,” jelasnya.
Penerapan skema ini memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan kendaraan yang masuk ke pelabuhan. Hal tersebut juga membantu mengurangi tekanan pada jalur utama menuju dermaga.
Data di lapangan menunjukkan bahwa pada Selasa pagi sekitar 380 kendaraan telah tertampung di buffer zone Bulusan. Kendaraan tersebut didominasi oleh truk besar dan sedang yang terus berdatangan.
Jumlah kendaraan di buffer zone diperkirakan akan terus bertambah seiring meningkatnya arus logistik. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas penyangga memiliki peran penting dalam sistem pengaturan lalu lintas pelabuhan.
Sementara itu, arus kendaraan dari tollgate menuju dermaga pada pukul 12.45 WIB terpantau padat. Waktu tempuh kendaraan pada jalur tersebut berkisar antara 15 hingga 30 menit.
Data Pergerakan Penumpang dan Kendaraan Selama Periode Lebaran
Berdasarkan data Posko Ketapang selama H+8 atau 30 Maret 2026, tercatat sebanyak 56.197 penumpang menyeberang dari Jawa ke Bali. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 5,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Total kendaraan yang menyeberang pada periode tersebut mencapai 17.608 unit. Jumlah ini juga mengalami kenaikan sebesar 2,1 persen dibandingkan tahun lalu.
Secara kumulatif, sejak H-10 hingga H+8 atau 22 Maret 2026 sampai 30 Maret 2026, jumlah penumpang yang menyeberang mencapai 624.717 orang. Sementara total kendaraan tercatat sebanyak 171.921 unit.
Data ini menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat selama periode Lebaran. Selain itu, peningkatan juga terjadi pada distribusi kendaraan logistik dan kendaraan pribadi.
Dari total reservasi kendaraan melalui platform digital Ferizy yang mencapai 183.810 unit, sebanyak 171.921 unit telah terlayani. Hal ini menunjukkan sebagian besar kendaraan telah berhasil menyeberang melalui Pelabuhan Ketapang.
Sementara itu, sekitar 11.889 kendaraan diperkirakan masih akan menyeberang hingga H+10 Lebaran. Angka ini menunjukkan bahwa arus kendaraan masih akan terus berlangsung dalam beberapa hari ke depan.