JAKARTA - Ekspor beras Indonesia untuk kebutuhan jamaah haji di Arab Saudi menjadi langkah penting yang menandai perubahan besar dalam sektor pangan nasional. Kebijakan ini sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia kini memiliki kapasitas produksi yang cukup kuat hingga mampu menembus pasar internasional.
Langkah tersebut juga memperlihatkan bahwa ketahanan pangan nasional telah mencapai titik yang lebih stabil. Dengan produksi yang meningkat dan cadangan beras yang kuat, pemerintah optimistis Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga menyalurkan pasokan ke luar negeri.
Kepala Badan Pangan Nasional (Kabapanas) Andi Amran Sulaiman menegaskan ekspor beras haji Indonesia ke Arab Saudi menjadi implikasi positif bagi pencapaian swasembada beras nasional sekaligus menunjukkan peningkatan produksi dan kepercayaan pasar internasional. Pernyataan ini menegaskan bahwa keberhasilan produksi beras dalam negeri tidak lagi sekadar wacana, melainkan telah menghasilkan langkah konkret.
"Ini aksi nyata, bukan ilusi. Kita ekspor dua ribuan ton (2.280 ton), jadi bukan (impor) 1.000 ton. Nah ini 2.280 ton diekspor," kata Amran dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa Indonesia kini berada pada posisi yang lebih kuat dalam sektor pangan.
Amran menegaskan ekspor beras tersebut menguatkan capaian swasembada komoditas tersebut yang telah tercapai sejak akhir tahun 2025. Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang Indonesia menuju kemandirian pangan.
Ekspor Perdana Beras Haji ke Arab Saudi
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional telah memberikan penugasan kepada Perum Bulog untuk mendukung pemenuhan kebutuhan beras bagi jamaah dan petugas haji Indonesia pada tahun ini. Penugasan ini sekaligus menjadi langkah awal dalam program pengiriman beras dari Indonesia ke Arab Saudi.
Ekspor beras perdana yang dikelola Bulog dipastikan mulai terlaksana dan menandai kuatnya stok beras Indonesia yang telah mencetak rekor swasembada. Program ini juga menjadi simbol bahwa produksi beras dalam negeri telah mencapai tingkat yang memungkinkan untuk ekspansi pasar.
Dalam surat yang diteken Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman dengan nomor 213/TS.03.03/K/02/2026 tanggal 27 Februari 2026, Bulog ditugaskan untuk melaksanakan ekspor beras untuk pemenuhan logistik yang berasal dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak 2.280 ton dengan kualitas beras premium. Penugasan tersebut menjadi dasar resmi pelaksanaan pengiriman beras ke Arab Saudi.
Berkat stok CBP 3,7 juta ton yang sangat kuat, ekspor dapat dilaksanakan karena kebutuhan konsumsi dalam negeri dipastikan telah tercukupi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah tetap memprioritaskan keamanan pangan domestik sebelum melakukan ekspor.
"Ini adalah ekspor perdana ke Saudi Arabia. Ini adalah momentum yang baik dan terbesar sepanjang sejarah di bulan Maret," ujar Amran. Pernyataan tersebut menggambarkan optimisme pemerintah terhadap peluang pasar beras Indonesia di luar negeri.
Tidak hanya itu, pemerintah akan melakukan ekspansi ekspor beras dengan turut menyasar ke negara sahabat lainnya sehingga hasil petani di dalam negeri itu tidak hanya diperuntukkan untuk konsumsi jamaah haji asal Indonesia di Arab Saudi. Strategi ini diharapkan mampu membuka pasar baru bagi produk beras nasional.
"Kita sudah menjajaki beberapa negara Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina. Mudah-mudahan ke depan bisa kita ekspor lebih besar lagi. Tetapi khusus untuk jamaah (haji dan umroh) kita, Saudi Arabia itu perkiraan antara 20 ribu sampai 50 ribu ton. Kemudian nanti ke negara lainnya lagi," tambah Amran.
Perhitungan Kebutuhan Beras Jamaah Haji
Adapun logistik beras Bulog bagi jamaah dan petugas haji tahun 2026 diperkirakan untuk dapat memenuhi total 205.420 orang. Jumlah tersebut dihitung berdasarkan estimasi jumlah jamaah dan petugas yang akan berangkat ke tanah suci.
Dengan asumsi konsumsi 170 gram nasi per orang per hari, maka diperoleh angka 2.280 ton dalam bentuk beras. Perhitungan ini menjadi dasar penentuan volume ekspor beras yang akan dikirim ke Arab Saudi.
Secara rinci, dalam data Kementerian Haji dan Umrah, jumlah kebutuhan beras tersebut dihitung berdasarkan frekuensi makan jamaah yang mencapai 78 kali di Makkah, 27 kali di Madinah, dan 6 kali di wilayah Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Perhitungan detail ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan logistik jamaah dapat terpenuhi secara optimal.
Untuk standar kualitas beras yang ditetapkan adalah beras premium dengan pecahan 5 persen. Standar ini diterapkan agar kualitas makanan yang dikonsumsi jamaah tetap terjaga selama menjalankan ibadah.
Berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah, pada tahun-tahun sebelumnya, dapur penyedia layanan di Arab Saudi umumnya menggunakan beras dari negara lain dengan harga pasar sekitar 150 Riyal Saudi (SAR) per 40 kilogram (kg) atau setara Rp16.824 per kg. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk menghadirkan alternatif pasokan yang lebih kompetitif.
Dengan program Beras Haji Nusantara yang digagas mulai tahun ini dapat memasok dengan harga lebih ekonomis daripada itu. Inisiatif ini sekaligus diharapkan dapat memberikan manfaat bagi jamaah dan juga meningkatkan nilai ekonomi bagi petani Indonesia.
Beras Nusantara untuk Standarisasi Menu Jamaah
Langkah inovatif pemerintah ini juga merupakan bentuk efisiensi dan standardisasi menu jamaah ke depannya. Dengan adanya pasokan beras dari dalam negeri, kualitas makanan yang disajikan kepada jamaah dapat lebih terkontrol.
Kementerian Haji dan Umrah merencanakan jamaah haji akan mendapatkan porsi berupa nasi seberat 170 gram setiap kali makan yang didampingi lauk 80 gram, dan sayur 75 gram serta air mineral dan pelengkap lainnya. Standar menu ini disusun untuk memastikan kebutuhan gizi jamaah tetap terpenuhi selama menjalani rangkaian ibadah.
Di sisi lain, beras yang akan dikirimkan ke Arab Saudi merupakan stok CBP kelolaan Perum Bulog yang sampai hari ini sepenuhnya merupakan hasil serapan dari produksi dalam negeri. Hal ini menegaskan bahwa beras yang digunakan benar-benar berasal dari hasil panen petani Indonesia.
Pemerintah memastikan beras yang dikirimkan juga merupakan hasil giling gabah yang masih segar karena bersumber dari penyerapan produksi dalam negeri di awal 2026. Kondisi ini diharapkan mampu menjaga kualitas beras yang akan dikonsumsi oleh para jamaah.
Diketahui, pelepasan beras itu telah dilakukan di Gudang Bulog Kelapa Gading, Jakarta pada Rabu, 4 Maret 2026 merupakan awal dari pengumpulan stok terlebih dahulu di Pelabuhan Tanjung Priok. Proses ini menjadi tahap awal sebelum beras diberangkatkan menuju Arab Saudi.
Selanjutnya akan dilaksanakan pengapalan yang rencananya dilaksanakan pada Sabtu, 7 Maret 2026 mendatang. Proses pengiriman tersebut menjadi bagian dari rangkaian logistik yang telah dirancang oleh pemerintah.
Pengapalan pun akan dilaksanakan secara bertahap untuk dapat memenuhi target stok yang ditetapkan. Langkah bertahap ini dilakukan agar distribusi berjalan lancar serta memastikan seluruh kebutuhan logistik jamaah haji Indonesia dapat terpenuhi dengan baik.