JAKARTA - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) terus memperkuat perannya dalam mendorong ekonomi hijau dan pemberdayaan UMKM. Sepanjang 2025, pembiayaan berkelanjutan BSI tercatat sebesar Rp 73,92 triliun, meningkat 11,20% dibanding tahun sebelumnya.
Dari total pembiayaan berkelanjutan tersebut, sekitar 79% disalurkan untuk UMKM. Sementara sisanya, sekitar 21% dialokasikan untuk pembiayaan hijau, termasuk kendaraan listrik dan instrumen sukuk sustainability.
Jika dibandingkan dengan total pembiayaan BSI per Desember 2025 yang mencapai Rp 319 triliun, porsi pembiayaan berkelanjutan mencapai 23,18%. Hal ini menunjukkan fokus strategis BSI dalam menyeimbangkan profitabilitas dan keberlanjutan.
Fokus BSI pada Pemberdayaan UMKM
Wakil Direktur Utama BSI, Bob T. Ananta, menekankan bahwa segmen UMKM menjadi fokus utama perseroan. “UMKM merupakan grassroot potensial yang harus dibina agar naik kelas dan sustain sehingga menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Bob pada Selasa, 17 Februari 2026.
BSI memperkuat UMKM dari hulu hingga hilir, mulai dari pembinaan pelaku usaha non-bankable hingga peningkatan kapasitas melalui BSI UMKM Center. Bank juga aktif berkolaborasi dengan kementerian dan komunitas usaha untuk meningkatkan literasi keuangan serta kompetensi pelaku UMKM.
Bob menambahkan bahwa bank syariah memiliki peran strategis mendampingi UMKM agar lebih berkelanjutan. Pendekatan ini juga selaras dengan prinsip environmental, social, and governance (ESG).
Integrasi ESG dalam Operasional BSI
BSI telah mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam seluruh lini bisnisnya. Beberapa langkah nyata meliputi pembangunan gedung ramah lingkungan di Landmark BSI Aceh dan BSI Tower, serta pemasangan panel surya di kantor cabang dan Desa BSI (Bangun Sejahtera Indonesia).
Selain itu, BSI menyediakan 70 unit recycle vending machine (RVM) di Jabodetabek dan Bali. Bank juga membangun 13 stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di kantor cabang, serta mengoperasikan 144 kendaraan operasional ramah lingkungan.
Digital carbon tracking system dikembangkan untuk mendukung pengelolaan emisi perusahaan. Langkah-langkah ini memperkuat posisi BSI sebagai pelopor bank syariah yang berkomitmen pada keberlanjutan lingkungan.
Kontribusi Sosial dan Ziswaf
BSI menyalurkan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) sebesar Rp 400 miliar. Dana ini menjangkau lebih dari 1,2 juta penerima manfaat di sektor ekonomi, pendidikan, kemanusiaan, kesehatan, dakwah, dan advokasi.
Program sosial ini menjadi bagian dari strategi BSI untuk mendukung inklusi keuangan. Selain itu, langkah ini memperkuat peran bank sebagai lembaga yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Upaya Internasional dan Literasi Keuangan Hijau
Di level internasional, BSI mendorong literasi ekonomi hijau melalui partisipasi dalam SDG Hive ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan ini menjadi bagian dari Ethical Finance ASEAN Summit 2026.
Dalam sesi diskusi bertajuk Unlocking Islamic Sustainable Finance, BSI menekankan pentingnya menerjemahkan prinsip keuangan syariah berbasis nilai menjadi praktik nyata. Fokus utama adalah memberikan dampak inklusif, terutama dalam pembiayaan UMKM, sehingga pertumbuhan ekonomi lebih merata dan berkelanjutan.
Tabel Distribusi Pembiayaan BSI 2025
| Segmen | Nilai Pembiayaan | Persentase dari Total |
|---|---|---|
| UMKM | Rp 58,36 triliun | 79% |
| Pembiayaan Hijau | Rp 15,56 triliun | 21% |
| Total Pembiayaan Berkelanjutan | Rp 73,92 triliun | 100% |
| Total Pembiayaan BSI | Rp 319 triliun | 100% |
Distribusi ini menunjukkan bahwa mayoritas pembiayaan berkelanjutan BSI tetap difokuskan pada pemberdayaan UMKM. Dengan strategi ini, bank mendorong pertumbuhan ekonomi dari tingkat grassroot hingga skala nasional.
BSI menegaskan bahwa pemberdayaan UMKM dan pembiayaan hijau bukan sekadar program sosial, tetapi juga strategi bisnis jangka panjang. Dengan pendekatan ini, BSI berharap dapat menciptakan ekosistem keuangan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi.