Jakarta - Gaji gross adalah istilah yang sering menjadi fokus dalam proses rekrutmen, namun masih menimbulkan kebingungan bagi sebagian karyawan maupun pengusaha karena perbedaan antara nominal yang tercantum di kontrak dan jumlah yang benar-benar diterima di rekening.
Pernahkah Anda atau tim merasa kaget saat melihat offering letter dengan angka tinggi, tetapi saat gajian tiba, dana yang masuk jauh lebih kecil?
Hal ini disebabkan karena angka awal yang tertera biasanya adalah gaji bruto, yakni total upah sebelum dikurangi pajak penghasilan, iuran jaminan sosial, dan potongan wajib lainnya.
Data OECD menunjukkan perbandingan struktur pajak penghasilan di 37 negara Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia.
Rasio penerimaan pajak terhadap PDB berbeda-beda berdasarkan tarif dan kebijakan fiskal masing-masing negara, sehingga potongan dari gaji bruto pun bervariasi, memengaruhi besarnya take-home pay.
Memahami konsep ini sangat penting bagi HR atau pemilik usaha agar ekspektasi gaji jelas sejak awal, negosiasi berjalan adil, dan transparansi keuangan perusahaan tetap terjaga.
Dengan pemahaman yang tepat, perbedaan antara gaji bruto dan take-home pay tidak lagi membingungkan.
Gaji gross adalah dasar yang perlu dipahami agar perhitungan dan komunikasi gaji lebih akurat dan transparan.
Gaji Gross Adalah
Memahami konsep dasar gaji kotor merupakan fondasi penting dalam membangun tata kelola SDM yang tertib dan terbuka.
Secara teknis, gaji gross adalah keseluruhan nilai finansial yang menjadi hak karyawan sebelum dikurangi kewajiban pajak maupun iuran tertentu.
Dalam penerapannya, nominal bruto terdiri dari beragam elemen, dengan gaji pokok sebagai komponen inti.
Dengan demikian, ketika seseorang memperoleh angka bruto, jumlah tersebut sudah mencakup gaji pokok, berbagai tunjangan, pembayaran lembur, bonus, serta kontribusi yang dibayarkan perusahaan atas nama karyawan.
Beberapa karakteristik yang melekat pada gaji bruto antara lain:
- Cerminan Total Kompensasi: Menggambarkan seluruh manfaat ekonomi yang diterima dalam satu periode penggajian.
- Landasan Perhitungan: Digunakan sebagai dasar penghitungan PPh 21 dan iuran jaminan sosial.
- Nilai yang Tercantum di Kontrak: Biasanya angka inilah yang tertulis resmi dalam perjanjian kerja atau offering letter.
- Alat Perencanaan Anggaran: Membantu perusahaan menyusun dan mengontrol biaya tenaga kerja secara lebih presisi.
Apa Saja Komponen dalam Gaji Gross?
Gaji gross atau gaji kotor adalah keseluruhan pendapatan karyawan sebelum dikurangi pajak, iuran BPJS, maupun potongan lain yang berlaku.
Bagi HRD maupun praktisi payroll, memahami setiap elemen penyusunnya sangat penting agar proses penggajian berjalan akurat, transparan, dan sesuai ketentuan ketenagakerjaan.
Berikut 10 komponen utama yang umumnya membentuk struktur gaji gross karyawan:
1. Gaji Pokok
Gaji pokok menjadi dasar utama dalam sistem pengupahan. Nilainya mencerminkan bobot pekerjaan, level jabatan, tanggung jawab, serta kompetensi individu.
Sebagian besar komponen payroll dihitung berdasarkan angka ini, sehingga penetapannya harus cermat dan sesuai regulasi.
- Bersifat Tetap: Nominalnya stabil setiap bulan kecuali ada perubahan jabatan atau penyesuaian upah.
- Dasar Perhitungan: Menjadi acuan untuk tunjangan, lembur, BPJS, dan pajak.
- Mengikuti Regulasi: Tidak boleh lebih rendah dari UMP/UMK yang berlaku.
2. Tunjangan Tetap
Tunjangan tetap adalah tambahan penghasilan yang diberikan rutin dan melekat pada jabatan atau status karyawan, tanpa dipengaruhi kehadiran harian.
- Dibayarkan Rutin: Bersamaan dengan gaji pokok.
- Contoh: Tunjangan jabatan, keluarga, atau perumahan.
- Tujuan: Meningkatkan daya tarik paket kompensasi.
3. Tunjangan Tidak Tetap
Berbeda dari tunjangan tetap, komponen ini bergantung pada kondisi aktual pekerjaan dan dapat berubah setiap periode.
- Variabel: Dipengaruhi absensi, shift, atau performa.
- Contoh: Uang makan, transport harian, insentif kehadiran.
- Fungsi: Mendorong disiplin dan produktivitas.
4. Upah Lembur
Upah lembur diberikan ketika karyawan bekerja melebihi jam kerja normal sesuai peraturan yang berlaku.
- Wajib Dibayarkan: Diatur dalam regulasi ketenagakerjaan.
- Berdasarkan Jam Nyata: Memerlukan data absensi akurat.
- Menambah Bruto: Masuk dalam total penghasilan kotor bulan berjalan.
5. Tunjangan Hari Raya (THR)
THR adalah kewajiban tahunan perusahaan yang diberikan menjelang hari raya keagamaan.
- Diatur Regulasi: Wajib dibayarkan sesuai ketentuan.
- Proporsional: Disesuaikan dengan masa kerja (minimal 1 bulan).
- Termasuk Penghasilan Bruto Tahunan: Diperhitungkan dalam pajak penghasilan.
6. Bonus dan Insentif
Bonus dan insentif diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kinerja yang melampaui standar.
- Tidak Tetap: Bisa dibayarkan bulanan, kuartalan, atau tahunan.
- Berbasis Target: Mengacu pada KPI, penjualan, atau pencapaian laba.
- Peran Strategis: Meningkatkan motivasi dan retensi karyawan.
7. Iuran BPJS Kesehatan (Porsi Perusahaan)
Walaupun dibayarkan oleh perusahaan langsung ke BPJS, komponen ini tetap termasuk manfaat ekonomi bagi karyawan.
- Menjamin Akses Kesehatan: Memberikan perlindungan medis.
- Mengikuti Ketentuan Persentase Resmi.
- Dicatat dalam Struktur Bruto: Meski tidak diterima tunai.
8. Iuran BPJS Ketenagakerjaan (Porsi Perusahaan)
Iuran ini mencerminkan tanggung jawab perusahaan dalam memberikan perlindungan sosial terkait risiko kerja dan masa depan pekerja.
- Meliputi: Jaminan kecelakaan kerja, kematian, hari tua, dan pensiun.
- Bagian dari Kepatuhan: Wajib dalam audit ketenagakerjaan.
- Menambah Nilai Kompensasi Total: Meski tidak berupa uang langsung.
9. Komisi Penjualan
Komisi adalah penghasilan berbasis hasil kerja, umumnya diberikan pada posisi sales atau bisnis.
- Fluktuatif: Bergantung performa.
- Skema Persentase atau Bertingkat.
- Potensi Signifikan: Bisa menjadi komponen terbesar dalam gaji gross.
10. Tunjangan Fasilitas Lainnya
Perusahaan kerap mengubah fasilitas kerja menjadi tunjangan uang agar lebih fleksibel dalam sistem payroll, terutama untuk skema kerja hybrid atau WFH.
- Tujuan: Mendukung efektivitas kerja.
- Contoh: Tunjangan pulsa, internet, kendaraan, atau keanggotaan profesional.
Dengan memahami seluruh komponen di atas, HR dan manajemen dapat menyusun struktur gaji gross yang adil, kompetitif, serta sesuai regulasi, sekaligus memberikan gambaran transparan kepada karyawan mengenai total nilai kompensasi yang mereka terima.
Perbedaan Gaji Gross vs Gaji Nett
Sangat penting bagi perusahaan untuk menerangkan perbedaan kedua skema ini kepada kandidat sejak awal proses rekrutmen.
Dengan penjelasan yang jelas, calon karyawan dapat memahami estimasi take home pay atau gaji bersih yang benar-benar diterima setiap bulan, sehingga tidak terjadi salah persepsi setelah bergabung.
Berikut perbedaan utama antara gaji gross dan gaji nett:
Gaji Gross
Pada skema gaji gross (gaji kotor), nominal yang tercantum dalam kontrak merupakan total penghasilan sebelum dikurangi pajak maupun iuran wajib.
Artinya, kewajiban PPh 21 dan potongan lainnya langsung dibebankan pada karyawan melalui pemotongan rutin setiap bulan.
Berikut karakteristik utama sistem gaji gross:
1. Pajak Menjadi Tanggung Jawab Karyawan
PPh 21 dipotong langsung dari penghasilan bulanan sehingga kewajiban perpajakan berada di pihak karyawan, sementara perusahaan bertindak sebagai pemotong dan penyetor.
2. Transparansi Struktur Penghasilan
Karyawan dapat melihat dengan jelas rincian gaji kotor, besaran pajak, iuran, hingga jumlah bersih yang diterima.
3. Menjadi Dasar Perhitungan BPJS
Iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan dihitung berdasarkan nilai gaji gross sesuai batas dan ketentuan yang berlaku.
4. Umum Digunakan dalam Kontrak Kerja
Angka yang tercantum dalam offering letter atau perjanjian kerja biasanya adalah nominal bruto sebelum potongan.
5. Stabilitas Anggaran Perusahaan
Biaya tenaga kerja lebih terprediksi karena pajak tidak menjadi beban tambahan perusahaan.
6. Adaptif terhadap Perubahan Aturan Pajak
Jika terjadi perubahan tarif pajak, perusahaan tidak perlu mengubah struktur gaji, karena penyesuaian otomatis mengikuti kondisi perpajakan karyawan.
7. Slip Gaji Lebih Terperinci
Setiap komponen potongan seperti PPh 21, BPJS, dan lainnya ditampilkan secara rinci dalam slip penghasilan.
8. Mendukung Pelaporan SPT Tahunan
Karyawan memperoleh bukti potong resmi yang dapat digunakan sebagai dasar pelaporan pajak pribadi.
9. Prinsip Keadilan Pajak
Besaran pajak bersifat proporsional mengikuti tingkat penghasilan masing-masing individu.
10. Konsep “One Gross”
Seluruh komponen pendapatan dijumlahkan terlebih dahulu sebagai satu total bruto, kemudian dikenakan potongan pajak dan iuran sesuai ketentuan.
Gaji Nett
Berbeda dari skema gross, pada sistem gaji nett karyawan menerima penghasilan yang sudah bersih dari potongan pajak.
Kewajiban PPh 21 sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan sehingga jumlah yang masuk ke rekening merupakan nominal akhir.
Berikut ciri utama dari skema gaji nett:
1. Nominal yang Diterima Sudah Final
Jumlah yang dibayarkan ke rekening karyawan adalah angka bersih tanpa pengurangan pajak.
2. Pajak Ditanggung Perusahaan
PPh 21 dibayarkan oleh perusahaan sebagai komponen biaya tambahan di luar nilai gaji yang dijanjikan kepada karyawan.
3. Memberikan Kepastian bagi Karyawan
Karyawan tidak perlu menghitung ulang sisa penghasilan karena tidak ada potongan pajak yang mengurangi angka pada slip gaji.
4. Beban Anggaran Lebih Tinggi untuk Perusahaan
Perusahaan harus menyiapkan dana ekstra guna menanggung pajak penghasilan karyawan.
5. Proses Payroll Lebih Rumit
Tim HR perlu menghitung nilai bruto ekuivalen (gross-up) untuk menentukan angka yang harus dilaporkan dalam administrasi perpajakan.
6. Terpengaruh Perubahan Status Karyawan
Jika terjadi perubahan status pernikahan, jumlah tanggungan, atau aturan pajak, beban pajak yang ditanggung perusahaan juga ikut berubah.
7. Potensi Kenaikan Biaya Tenaga Kerja
Apabila tarif PPh 21 meningkat, otomatis total biaya yang harus dikeluarkan perusahaan ikut bertambah.
8. Umum Digunakan di Perusahaan Kecil atau Rintisan
Model ini sering dipilih agar karyawan lebih mudah memahami penghasilan yang diterima tanpa harus memikirkan potongan pajak.
9. Nilai dalam Kontrak Biasanya Bersih
Angka yang tercantum dalam perjanjian kerja adalah jumlah yang benar-benar diterima karyawan.
10. Slip Gaji Lebih Ringkas
Potongan pajak tidak muncul sebagai pengurang langsung karena sudah dibayarkan oleh perusahaan di luar nominal tersebut.
Komponen Pemotong Gaji Gross
Setelah memahami besaran gaji gross, tahap selanjutnya adalah mengenali berbagai faktor yang membuat nominal tersebut berkurang sebelum diterima sebagai take home pay.
Secara garis besar, pengurangan gaji memiliki dua tujuan utama:
- Kepatuhan terhadap Regulasi: Beberapa potongan bersifat wajib karena diatur dalam perundang-undangan dan harus dijalankan oleh perusahaan.
- Perlindungan Sosial: Sebagian lainnya berfungsi sebagai jaminan kesehatan, dana pensiun, maupun tabungan jangka panjang bagi karyawan.
Berikut adalah komponen utama yang umumnya mengurangi gaji bruto:
1. Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21)
PPh 21 adalah kewajiban pajak atas penghasilan dari hubungan kerja. Dalam praktiknya, perusahaan bertindak sebagai pihak yang memotong dan menyetorkan pajak tersebut atas nama karyawan.
Potongan ini mencerminkan kontribusi pekerja terhadap pembiayaan negara dan pembangunan.
- Sistem Progresif: Semakin besar penghasilan, semakin tinggi persentase pajaknya.
- Dipengaruhi PTKP: Status pernikahan dan jumlah tanggungan menentukan besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak, yang berdampak langsung pada jumlah pajak terutang.
- Kontribusi Fiskal: Menjadi bagian dari penerimaan negara yang bersumber dari sektor ketenagakerjaan.
2. Iuran BPJS Ketenagakerjaan (JHT dan JP)
Potongan ini termasuk dalam sistem jaminan sosial nasional yang bertujuan memberikan perlindungan finansial jangka panjang, khususnya saat pekerja memasuki masa pensiun atau tidak lagi aktif bekerja.
Dalam implementasinya, terdapat dua sudut pandang pembayaran:
a. Dibayarkan oleh Perusahaan
Bagi perusahaan, kewajiban membayar dan menyetorkan iuran ini merupakan bagian dari kepatuhan terhadap sistem jaminan sosial nasional.
Selain memenuhi aturan hukum, kontribusi tersebut menunjukkan tanggung jawab perusahaan dalam menjamin kesejahteraan jangka panjang tenaga kerja.
- Iuran JHT Perusahaan: 3,7% dari upah dasar perhitungan.
- Iuran JP Perusahaan: 2% dari upah dengan batas maksimum sesuai ketentuan.
- Peran Strategis: Mengurangi risiko sosial pasca-pensiun dan memperkuat reputasi perusahaan sebagai pemberi kerja yang peduli.
- Aspek Regulasi: Bersifat wajib dan dapat dikenakan sanksi administratif apabila tidak dipenuhi.
b. Dibayarkan oleh Karyawan
Dari sisi karyawan, potongan JHT dan JP berfungsi sebagai tabungan wajib sekaligus perlindungan finansial masa depan.
JHT akan terakumulasi dan dapat dicairkan saat pensiun, resign, atau terkena pemutusan hubungan kerja.
Sementara JP memberikan manfaat berupa pembayaran rutin setelah memasuki usia pensiun.
- JHT (Jaminan Hari Tua): Dana yang dapat dicairkan sesuai ketentuan saat berhenti bekerja atau pensiun.
- JP (Jaminan Pensiun): Penghasilan berkala di masa pensiun.
- Persentase Umum Karyawan: 2% untuk JHT dan 1% untuk JP dari upah yang menjadi dasar perhitungan.
3. Iuran BPJS Kesehatan
Iuran ini menjamin akses layanan kesehatan bagi pekerja sehingga risiko biaya pengobatan yang besar dapat ditekan melalui sistem gotong royong nasional.
Seperti halnya BPJS Ketenagakerjaan, pembayarannya terbagi dalam dua sisi:
a. Dibayarkan oleh Perusahaan
Perusahaan berkewajiban memastikan karyawannya terdaftar dalam program jaminan kesehatan nasional.
Dengan mengikuti program ini, risiko biaya medis yang tinggi dapat dialihkan ke sistem jaminan sosial, sekaligus memenuhi ketentuan hukum yang berlaku.
- Iuran Perusahaan: Umumnya 4% dari upah dasar perhitungan, dengan batas maksimum tertentu.
- Fungsi Proteksi: Mengurangi risiko finansial akibat biaya kesehatan.
- Kewajiban Hukum: Menjadi salah satu aspek penting dalam pemeriksaan kepatuhan ketenagakerjaan.
b. Dibayarkan oleh Karyawan
Dari sisi pekerja, potongan ini memberikan jaminan akses layanan medis bagi diri sendiri dan anggota keluarga yang terdaftar.
Melalui mekanisme kolektif, karyawan tidak perlu menanggung sepenuhnya biaya perawatan ketika sakit atau membutuhkan tindakan medis.
- Akses Fasilitas Kesehatan: Berlaku di jaringan layanan yang bekerja sama dengan BPJS.
- Iuran Karyawan: Umumnya 1% dari gaji bulanan dengan batas maksimum upah sesuai aturan.
4. Potongan Absensi dan Keterlambatan
Pengurangan ini bersifat administratif dan diterapkan untuk menjaga disiplin kerja serta kepatuhan terhadap jam operasional perusahaan.
- Instrumen Pengendalian Disiplin: Membantu menjaga produktivitas.
- Berbasis Sistem: Harus mengacu pada data absensi yang valid dan dapat diverifikasi.
- Ketentuan Internal: Wajib diatur secara tertulis dalam peraturan perusahaan atau perjanjian kerja.
5. Potongan Pinjaman atau Kasbon
Jika perusahaan menyediakan fasilitas pinjaman internal, biasanya cicilan akan dipotong langsung melalui sistem penggajian agar pembayaran berjalan tertib.
- Tujuan Kesejahteraan: Membantu karyawan memenuhi kebutuhan mendesak dengan bunga rendah atau tanpa bunga.
- Tersistem: Memerlukan pencatatan terintegrasi agar jadwal pembayaran konsisten.
6. Iuran Serikat Pekerja atau Dana Sosial
Potongan ini lahir dari kesepakatan bersama antara perusahaan dan pekerja untuk mendukung kegiatan organisasi atau program kesejahteraan kolektif.
- Bersifat Kolektif: Digunakan untuk mendukung aktivitas serikat, koperasi, atau dana sosial internal.
- Berdasarkan Kesepakatan Formal: Besaran dan mekanismenya diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama atau regulasi internal perusahaan.
Dengan memahami seluruh komponen di atas, baik HR maupun karyawan dapat melihat bahwa pengurangan dari gaji gross bukan sekadar potongan semata, melainkan bagian dari sistem perlindungan, kepatuhan hukum, dan tata kelola ketenagakerjaan yang terstruktur.
Cara Menghitung Gaji Gross ke Nett
Agar lebih mudah dipahami, berikut simulasi lengkap perhitungan gaji gross hingga menjadi take home pay menggunakan contoh kasus nyata.
Bayangkan seorang karyawan bernama Andi yang bekerja sebagai HR Manager di Jakarta dengan status lajang (TK/0). Ia menerima penawaran gaji gross Rp15.000.000 per bulan. Berikut tahapan perhitungannya secara sistematis:
1. Rincian Komponen Penghasilan
Langkah pertama adalah mengidentifikasi seluruh elemen pendapatan tetap yang diterima setiap bulan:
- Gaji Pokok: Rp12.000.000
- Tunjangan Tetap: Rp3.000.000
- Status Pajak: TK/0 (belum menikah, tanpa tanggungan)
- Domisili Kerja: Jakarta
2. Hitung Total Penghasilan Bruto (Gross)
Seluruh komponen pendapatan rutin dijumlahkan:
Rp12.000.000 + Rp3.000.000 = Rp15.000.000
Jadi, total gaji gross Andi per bulan adalah Rp15.000.000.
3. Hitung Komponen Pengurang
Sebelum menghitung pajak, ada beberapa komponen yang mengurangi penghasilan bruto.
a. Biaya Jabatan
Biaya jabatan dihitung sebesar 5% dari gaji gross.
5% × Rp15.000.000 = Rp750.000
Namun, sesuai ketentuan PPh 21, batas maksimal biaya jabatan adalah Rp500.000 per bulan.
Maka yang digunakan adalah Rp500.000.
b. Iuran JHT (2%)
2% × Rp15.000.000 = Rp300.000
c. Iuran JP (1%)
Dasar perhitungan menggunakan batas plafon 2024 sebesar Rp10.022.600.
1% × Rp10.022.600 = Rp100.226
d. Iuran BPJS Kesehatan (1%)
Menggunakan batas plafon Rp12.000.000.
1% × Rp12.000.000 = Rp120.000
4. Hitung Penghasilan Neto Sebulan
Total pengurang:
Rp500.000 + Rp300.000 + Rp100.226 + Rp120.000 = Rp1.020.226
Penghasilan neto per bulan:
Rp15.000.000 – Rp1.020.226 = Rp13.979.774
5. Hitung Penghasilan Neto Setahun
Rp13.979.774 × 12 = Rp167.757.288
Nilai ini menjadi dasar sebelum dikurangi PTKP.
6. Kurangi dengan PTKP
Status Andi adalah TK/0, sehingga PTKP sebesar Rp54.000.000 per tahun.
Rp167.757.288 – Rp54.000.000 = Rp113.757.288
7. Tentukan PKP (Penghasilan Kena Pajak)
PKP dibulatkan ke bawah menjadi:
Rp113.757.000
Nilai ini yang digunakan untuk menghitung pajak progresif.
8. Hitung PPh 21 Tahunan
Lapisan 1 (5%)
5% × Rp60.000.000 = Rp3.000.000
Lapisan 2 (15%)
Sisa PKP:
Rp113.757.000 – Rp60.000.000 = Rp53.757.000
15% × Rp53.757.000 = Rp8.063.550
Total Pajak Setahun
Rp3.000.000 + Rp8.063.550 = Rp11.063.550
Pajak Per Bulan
Rp11.063.550 ÷ 12 = Rp921.963
9. Hitung Take Home Pay (Gaji Nett)
Total potongan bulanan terdiri dari:
- PPh 21: Rp921.963
- Total iuran BPJS: Rp520.226
Total potongan: Rp1.442.189
Take home pay:
Rp15.000.000 – Rp1.442.189 = Rp13.557.811
Dari gaji gross Rp15.000.000, Andi menerima gaji bersih sebesar Rp13.557.811 per bulan setelah dipotong pajak dan iuran jaminan sosial.
Simulasi ini menunjukkan bahwa memahami komponen bruto, pengurang, hingga pajak progresif sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman saat menerima penawaran kerja maupun menyusun struktur penggajian.
Tips Negosiasi Gaji Gross atau Nett?
Bagi tim HR maupun pemilik usaha, menyampaikan penjelasan yang transparan kepada kandidat terkait struktur penghasilan—baik skema gross, nett, maupun gross-up—merupakan langkah krusial agar tidak timbul kesalahpahaman di kemudian hari.
Supaya proses negosiasi berlangsung profesional serta menguntungkan kedua belah pihak, berikut sejumlah strategi yang dapat diterapkan:
1. Pahami Skema Gross-Up sebagai Alternatif Seimbang
Model gross-up memungkinkan perusahaan memberikan tunjangan pajak sebesar kewajiban PPh 21 karyawan. Dengan mekanisme ini, pegawai tetap menerima penghasilan bersih yang optimal, sementara perusahaan tetap dapat mengatur struktur biaya secara terkontrol.
2. Manfaatkan Data Survei Gaji
Pastikan nominal yang ditawarkan merujuk pada riset industri dan data pasar terkini. Pendekatan berbasis data membantu perusahaan tetap kompetitif dalam menarik sekaligus mempertahankan talenta unggul.
3. Sampaikan Manfaat Non-Finansial Secara Jelas
Tekankan bahwa kompensasi bukan semata nominal gaji. Fasilitas seperti asuransi tambahan, program pensiun, fleksibilitas kerja, hingga benefit lainnya memiliki nilai jangka panjang yang signifikan.
4. Berikan Simulasi Menggunakan Kalkulator Andal
Gunakan sistem payroll atau HRIS untuk menampilkan ilustrasi perhitungan take home pay pada skema gross, nett, maupun gross-up. Transparansi angka akan memudahkan kandidat memahami perbedaannya.
5. Terangkan Seluruh Komponen Potongan Sejak Awal
Jelaskan detail pemotongan seperti PPh 21, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, maupun komponen lainnya agar tidak muncul persepsi bahwa gaji berkurang setelah mulai bekerja.
6. Bahas Dampak Status PTKP
Informasikan bahwa status pernikahan dan jumlah tanggungan memengaruhi besaran pajak, sehingga penghasilan bersih bisa berubah sesuai kondisi keluarga.
7. Soroti Total Compensation Package
Arahkan diskusi pada keseluruhan paket remunerasi, bukan hanya gaji bulanan. Sertakan manfaat jangka panjang seperti dana pensiun, jaminan hari tua, dan perlindungan kesehatan.
8. Buka Sesi Tanya Jawab
Berikan kesempatan kepada kandidat untuk menggali detail komponen penghasilan. Dialog terbuka akan membangun rasa percaya sejak tahap awal rekrutmen.
9. Tunjukkan Contoh Slip Gaji
Menyediakan contoh slip penghasilan membantu kandidat memahami struktur pendapatan serta potongan secara lebih konkret dan visual.
10. Tegaskan Penggunaan Sistem HRIS Modern
Sampaikan bahwa perusahaan memanfaatkan sistem payroll dan HRIS terkini sehingga penghitungan gaji, pajak, dan iuran jaminan sosial dilakukan secara presisi, transparan, serta tepat waktu.
Tips Menentukan Gaji Gross Buat Karyawan
Menetapkan nominal bruto secara akurat merupakan fondasi penting untuk menjaga keseimbangan antara kesejahteraan tim dan stabilitas keuangan perusahaan.
Ketepatan dalam menyusun skema imbalan memastikan kompensasi tetap kompetitif tanpa mengganggu kondisi finansial bisnis.
Berikut enam langkah strategis yang dapat diterapkan:
1. Lakukan Evaluasi Jabatan Secara Menyeluruh
Tinjau beban tugas, kompleksitas pekerjaan, serta tingkat tanggung jawab dari posisi yang dimaksud agar selaras dengan nominal bruto yang akan diberikan.
Penilaian jabatan yang komprehensif membantu perusahaan menentukan harga pasar yang wajar untuk setiap peran, sehingga terhindar dari risiko memberikan bayaran di bawah standar maupun terlalu tinggi dibanding nilai kontribusinya.
2. Selaraskan dengan Kapasitas Anggaran Perusahaan
Manfaatkan laporan keuangan untuk memastikan total biaya tenaga kerja tidak mengganggu arus kas.
Hitung perbandingan biaya karyawan terhadap pendapatan guna menjaga keberlangsungan usaha.
Menetapkan gaji kotor tanpa mempertimbangkan proyeksi pendapatan jangka panjang dapat berdampak pada kestabilan operasional di masa mendatang.
3. Perhatikan Ketentuan Upah Minimum Berdasarkan Wilayah
Pastikan nominal dasar tidak lebih rendah dari standar minimum yang berlaku di daerah setempat.
Setiap wilayah memiliki tingkat kebutuhan hidup yang berbeda, sehingga kepatuhan terhadap regulasi upah minimum merupakan kewajiban hukum yang harus dipenuhi agar perusahaan terhindar dari sanksi administratif.
4. Tinjau Kinerja Secara Berkala Menggunakan KPI
Gunakan indikator performa utama untuk menentukan waktu yang tepat dalam memberikan penyesuaian gaji bruto.
Sistem berbasis pencapaian yang transparan akan mendorong motivasi kerja, karena karyawan memahami bahwa hasil kerja yang optimal berdampak langsung pada peningkatan penghasilan.
5. Amati Perkembangan Inflasi dan Biaya Hidup
Lakukan penyesuaian tahunan dengan mempertimbangkan laju inflasi agar daya beli tetap terjaga.
Langkah ini berperan penting dalam mempertahankan kesejahteraan psikologis karyawan; perusahaan yang mengabaikan kenaikan biaya hidup berpotensi kehilangan talenta terbaik ke kompetitor yang menawarkan kompensasi lebih adaptif.
6. Manfaatkan Sistem Payroll Otomatis
Penghitungan manual memiliki risiko kesalahan, terutama saat berkaitan dengan komponen pajak yang berubah-ubah.
Penggunaan sistem penggajian otomatis dapat menghemat waktu sekaligus memastikan perhitungan PPh 21 dan iuran BPJS dilakukan secara akurat sesuai regulasi terbaru tahun 2024.
Sebagai penutup, gaji gross adalah total penghasilan karyawan sebelum potongan pajak dan iuran, menjadi acuan utama dalam perencanaan dan transparansi gaji.