Nikel

Harga Nikel Global Naik, Produksi Nasional Terjaga, Industri Pertambangan Indonesia Optimis 2026

Harga Nikel Global Naik, Produksi Nasional Terjaga, Industri Pertambangan Indonesia Optimis 2026
Harga Nikel Global Naik, Produksi Nasional Terjaga, Industri Pertambangan Indonesia Optimis 2026

JAKARTA - Pergerakan harga nikel global pada awal 2026 menghadirkan angin segar bagi industri pertambangan nasional. Di tengah dinamika kebijakan produksi dan perubahan permintaan industri baterai kendaraan listrik, harga logam ini justru menunjukkan tren positif.

Momentum tersebut muncul bersamaan dengan kebijakan pengetatan produksi bijih nikel yang mulai bergulir sejak akhir 2025. Langkah itu dinilai memberi sinyal keseimbangan baru antara pasokan dan kebutuhan pasar global.

Di sisi lain, penguatan standar audit dan tata kelola lingkungan oleh perusahaan tambang turut memperkuat kepercayaan terhadap rantai pasok berkelanjutan. Kombinasi faktor harga dan kepatuhan inilah yang membentuk lanskap baru industri nikel Indonesia.

Harga Global Naik, Produksi Nasional Tetap Terkendali

Mencuatnya rencana penyesuaian volume produksi bijih nikel sejak akhir 2025 membuat harga nikel menguat signifikan. Berdasarkan catatan Trading Economics, harga nikel global naik dari 14.200 dollar AS per ton pada 16 Desember 2025 menjadi 18.400 dollar AS per ton pada 6 Januari 2026.

Kendati masih rentan berfluktuasi, harga nikel tetap terjaga di atas 17.000 dollar AS per ton pada Senin, 16 Februari 2026. Kondisi ini memberi ruang optimisme bagi pelaku industri dalam menjaga margin usaha.

Di tengah situasi tersebut, PT Vale Indonesia Tbk yang merupakan anggota holding BUMN pertambangan MIND ID mencatat produksi penjualan 2,2 juta ton bijih nikel pada awal 2026. Capaian ini diraih meskipun pasar tengah berfluktuasi.

Sejalan dengan itu, proyek Indonesia Growth Project (IGP) Morowali tetap menjaga ritme produksi. Perusahaan juga terus meningkatkan standar kepatuhan serta tata kelola lingkungan dalam operasionalnya.

Head of Mine Operation Bahodopi Vale Indonesia, Wafir, menyatakan pencapaian awal 2026 menjadi bukti kesiapan proyek dalam menjaga stabilitas operasional jangka panjang. Penguatan sistem operasional, perencanaan tambang terintegrasi, serta koordinasi solid antara tim proyek dan operasional menjadi kunci capaian tersebut.

Manajemen juga fokus memastikan keberlanjutan proyek di tengah dinamika industri. Tantangan awal tahun justru dipandang sebagai momentum memperkuat ketangguhan organisasi.

”Industri ini sangat dinamis. Kami terus beradaptasi, memperkuat kolaborasi internal, dan menjaga komunikasi terbuka dengan seluruh pemangku kepentingan. Kami optimistis kinerja positif ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan,” ujar Wafir dalam keterangannya, Sabtu, 14 Februari 2026.

Ia menambahkan bahwa perusahaan memperkuat manajemen operasional berbasis efisiensi dan inovasi. Optimalisasi perencanaan tambang, peningkatan produktivitas alat, serta penguatan manajemen risiko terus dipacu.

Budaya kerja berorientasi keselamatan atau safety first juga ditanamkan di seluruh lini operasional. Dukungan pemerintah daerah maupun pusat dinilai penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Capaian produksi dan penjualan 2,2 juta ton bijih nikel menjadi fondasi kuat bagi target kinerja sepanjang 2026. Kolaborasi antara perusahaan dan regulator diharapkan menjaga stabilitas sektor ini.

Ekspansi Smelter dan Penguatan Hilirisasi Nasional

Catatan positif juga diraih PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau Harita Nickel hingga triwulan III-2025. Perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, ini membukukan pendapatan Rp 22,4 triliun.

Capaian tersebut didorong penguatan praktik pertambangan berkelanjutan yang dijalankan perusahaan. Strategi ini sekaligus mendukung program hilirisasi pemerintah.

Harita tengah melanjutkan pembangunan fasilitas rotary kiln electric furnace (RKEF) ketiga dengan kapasitas produksi hingga 185.000 ton kandungan nikel dalam feronikel per tahun. Hingga Oktober 2025, kemajuan fase kedua telah mencapai 91 persen dan fase ketiga 44 persen.

Fasilitas tersebut akan berkontribusi dalam memperkuat daya saing perusahaan dan mendukung hilirisasi. Investasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas nilai tambah di dalam negeri.

Dalam aspek standar keberlanjutan, Harita menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang menjalani audit penuh Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). Setelah tahap peninjauan dokumen dan audit lapangan, perusahaan meninjau draf laporan auditor independen untuk menyiapkan langkah tindak lanjut sesuai proses IRMA.

Selain Harita, Vale juga menjadi perusahaan Indonesia yang menjalani audit IRMA. Langkah ini mempertegas komitmen pelaku industri terhadap praktik pertambangan bertanggung jawab.

Melalui unit bisnisnya, PT Obi Nickel Cobalt, Harita Nickel menyelesaikan audit Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) oleh Responsible Minerals Initiative untuk komoditas nikel dan kobalt. Sebelumnya, PT Halmahera Persada Lygend juga menyelesaikan audit serupa dan menjalani audit tahunan kedua pada tahun ini.

Pelaksanaan audit menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok mineral yang transparan dan etis. Audit RMAP pada 29 Mei 2025 menjadikan Harita Nickel sebagai pelaku industri nikel dan kobalt di Indonesia yang memenuhi panduan due diligence internasional seperti OECD, Uni Eropa, dan Dodd-Frank Act di AS.

Sustainability Manager Harita Nickel, Klaus Oberbauer, menyatakan pemenuhan standar RMAP merupakan pengakuan internasional atas upaya perusahaan. Standar tersebut memastikan seluruh proses rantai pasok mineral dikelola secara etis dan bertanggung jawab.

”Penerapan prinsip responsible mining dan responsible sourcing merupakan bagian penting dari strategi ESG Harita Nickel dalam mendukung industri baterai global yang berkelanjutan dan memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok hilirisasi nikel nasional,” ujar Klaus dalam keterangan tertulis, Selasa, 18 November 2025.

Ia menambahkan bahwa pemenuhan standar RMAP menunjukkan praktik operasional dan sistem tata kelola perusahaan selaras dengan prinsip ESG global. Sistem uji tuntas terstandarisasi memperkuat integritas perusahaan dalam memastikan setiap mineral dapat ditelusuri asal-usulnya.

”Kami percaya, praktik yang bertanggung jawab bukan sekadar kewajiban, tetapi fondasi kepercayaan antara perusahaan, pelanggan, dan masyarakat dunia,” tambah Klaus. Upaya ini juga menjadi kontribusi terhadap transisi energi melalui hilirisasi nikel yang bertanggung jawab.

Prospek Baterai EV dan Kebijakan Produksi 2026

Penguatan harga nikel dan berkembangnya rantai pasok berkelanjutan menjadi sentimen positif bagi industri baterai berbasis nikel. Di tengah dominasi baterai lithium iron phosphate (LFP), pengembangan baterai berbasis nikel, mangan, dan kobalt (NMC) tetap didorong.

Pada Jumat, 30 Januari 2026, di Jakarta, ditandatangani kerangka kerja sama antara PT Aneka Tambang Tbk, Indonesia Battery Corporation, dan konsorsium HYD Investment Limited. Konsorsium ini beranggotakan Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd, EVE Energy Co Ltd, serta PT Daaz Bara Lestari Tbk dan dipimpin Huayou.

Director of Public Affairs Huayou Indonesia, Stevanus, menyatakan pihaknya masih melihat pertumbuhan berbagai jenis baterai kendaraan listrik di dunia. Menurut dia, setiap jenis baterai EV akan memiliki ceruk pasar masing-masing.

”Dalam beberapa tahun ke depan, (nikel) masih akan ada pasarnya. Produsen baterai akan melihat seperti apa kebutuhan customer (pelanggan) ke depan. Dari situ, kami akan mengembangkan teknologi dan material yang sesuai dengan keinginan customer,” kata Stevanus di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.

Di sisi kebijakan produksi, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyampaikan bahwa rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pertambangan bijih nikel telah diumumkan. Dalam RKAB 2026, target produksi nasional ditetapkan pada kisaran 250 juta hingga 260 juta ton.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah membenahi proses persetujuan RKAB pertambangan minerba. Langkah tersebut dilakukan guna menyeimbangkan pasokan dan kebutuhan pasar agar stabilitas harga komoditas tetap terjaga.

Ketersediaan sumber daya bagi generasi mendatang juga menjadi pertimbangan penting. Kebijakan produksi terkendali diharapkan mampu menjaga keberlanjutan industri nikel nasional dalam jangka panjang.

Dengan kombinasi harga yang menguat, produksi terukur, serta standar global yang diperketat, industri nikel Indonesia memasuki babak baru pada 2026. Tantangan tetap ada, namun fondasi tata kelola dan hilirisasi memberi ruang optimisme terhadap masa depan sektor strategis ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index