PSEL Denpasar Raya, Solusi Sampah dan Wisata Berkelanjutan

PSEL Denpasar Raya, Solusi Sampah dan Wisata Berkelanjutan
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas). (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menilai bahwa proyek pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya merupakan keputusan strategis demi mendongkrak daya saing sektor pariwisata di Bali lewat mekanisme manajemen sampah yang kekinian, padu, serta berkelanjutan.

“Bali memulai langkah besar menuju sistem pengelolaan sampah yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan. Pengelolaan sampah yang baik akan menjaga kualitas lingkungan sekaligus memperkuat daya saing pariwisata Indonesia,” kata Zulkifli Hasan dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Infrastruktur PSEL Denpasar Raya dirancang mempunyai daya tampung pemrosesan sampah mencapai 1.400 ton saban hari. Tahap pembangunan diproyeksikan memakan waktu kurang lebih 18 bulan dan dipersiapkan untuk mulai berfungsi penuh pada pengujung tahun 2027.

Zulhas memaparkan bahwa pendirian sarana ini didasari oleh penerapan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. 

Langkah ini sekaligus mengimplementasikan instruksi Presiden Prabowo Subianto demi mengakselerasi pendirian fasilitas konversi sampah menjadi tenaga listrik lewat pemangkasan birokrasi regulasi, kemudahan izin, serta kolaborasi antarinstansi.

Bukan cuma menjadi jalan keluar jangka panjang untuk menangani sampah di kawasan Denpasar Raya, megaproyek ini pun diproyeksikan mampu menjadi percontohan bagi adopsi sistem waste to energy di wilayah-wilayah lain.

Awal pengerjaan PSEL ini dikukuhkan lewat prosesi penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) selaku instrumen akselerasi pengerjaan PSEL di Pulau Dewata.

Keterlibatan Danantara Indonesia di dalam proyek ini pun diproyeksikan mampu mengokohkan keterpaduan langkah pemerintah untuk mendorong percepatan penyediaan sarana prasarana strategis nasional, termasuk pendirian kompleks PSEL di wilayah lainnya.

Merujuk pada angka statistik milik Pemerintah Provinsi Bali, pelancong yang datang ke Bali menyentuh angka di atas 16 juta orang sepanjang tahun 2025. Bidang pariwisata ini menopang roda ekonomi daerah hingga melampaui 65 persen dengan menyumbang devisa di kisaran Rp176 triliun.

Namun di waktu yang sama, volume produksi sampah di Bali dilaporkan menyentuh angka kisaran 3.500 ton saban hari. Oleh sebab itu, pembenahan pada sistem manajemen sampah dianggap menjadi urgensi yang mesti segera dituntaskan.

Berdasarkan pandangan Zulhas, realitas tersebut memposisikan penuntasan kendala sampah sebagai elemen krusial demi memelihara mutu lokasi pariwisata sekaligus menstimulasi dinamika ekonomi di Bali.

“Keberhasilan PSEL Denpasar Raya akan menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun sistem pengelolaan sampah modern melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pihak pemerintah menjamin bahwa akselerasi pendirian PSEL bakal terus berjalan secara kontinu. 

Selepas kawasan Denpasar Raya, pengerjaan PSEL Kota Bekasi serta PSEL Bogor Raya 1 pun dijadwalkan bakal langsung bergulir sebagai bagian dari rencana strategis nasional dalam memperbanyak fasilitas konversi sampah menjadi energi di antero Indonesia.

Langkah taktis percepatan pengerjaan PSEL ini juga diintegrasikan dengan target besar pemerintah demi menuntaskan sekitar 70 sampai 80 persen problem sampah di skala nasional pada tahun 2029 mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index