JAKARTA – PT Pupuk Indonesia (Persero) memberikan jaminan bahwa kegiatan ekspor pupuk ke Australia serta rencana pengiriman ke negara lain tidak akan mengganggu ketersediaan stok bagi petani lokal, karena pemenuhan kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas utama perusahaan.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyatakan bahwa ekspor dilaksanakan hanya setelah kebutuhan pupuk nasional tercukupi, sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Prinsipnya adalah penuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Untuk ekspor karena desainnya industri kami untuk ekspor dan arahan dari Bapak Presiden adalah kalau gudang-gudang kami penuh dengan pupuk, maka kami tidak boleh membiarkan sahabat-sahabat Indonesia kekurangan dengan pupuk," ujar Rahmad dalam pernyataan pers di Brisbane, Australia, Selasa (23/6/2026).
Rahmad memaparkan bahwa Indonesia mempunyai kapasitas produksi yang melampaui kebutuhan domestik. Hal ini menciptakan surplus struktural yang memang dirancang untuk menyasar pasar internasional.
Ekspor yang dilakukan tahun ini memanfaatkan kelebihan produksi tersebut, sehingga tidak akan memengaruhi ketersediaan urea di dalam negeri.
Berdasarkan data perusahaan, Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) memiliki potensi ekspor urea sebanyak 1,5 juta ton pada 2026. Target produksi urea perusahaan mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan nasional diperkirakan berada di angka 6,3 juta ton per tahun.
"Kami memiliki kapasitas yang memang lebih besar dari kebutuhan petani kami. Surplus ini bukan karena krisis, kemudian kami ekspor. Tetapi desain struktural industri pupuk di Indonesia adalah sebagian ekspor oriented," tambahnya.
Pada pekan ini, sebanyak 47.250 ton pupuk urea Indonesia telah tiba di Pelabuhan Brisbane, Australia. Pengiriman ini merupakan bagian dari kesepakatan ekspor total sebesar 250.000 ton sepanjang 2026 melalui skema kerja sama antarpemerintah (G to G).
Pemerintah Australia menyambut positif kedatangan pasokan pupuk ini sebagai langkah penguatan ketahanan pangan di Australia dan kawasan regional.
First Assistant Secretary Department of Agriculture, Fisheries and Forestry Australia, Amanda Calmers, menyatakan bahwa kiriman tersebut memberikan kepastian bagi para petani lokal serta mendukung ketahanan pangan.
"Kedatangan urea dari Indonesia hari ini adalah kesepakatan komersial yang didukung oleh kedua pemerintah dan merupakan contoh dari kemitraan dan persahabatan kami yang mendalam," ungkap Amanda.
Ia menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan cerminan hubungan erat antara Australia dan Indonesia sebagai mitra strategis, yang terus berkembang melalui implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).
"Australia memang memiliki kepercayaan yang mendalam dan ikatan yang tak terputus dengan Indonesia, tetangga dan mitra kami. Mereka juga teman kami," tutup Amanda.