JAKARTA – Kementerian Agama bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mematangkan persiapan penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional XXXI yang dijadwalkan berlangsung di Semarang pada September 2026.
“Kami berharap MTQ Nasional di Jawa Tengah dapat berjalan dengan baik, sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses administrasi, dan sukses dalam seluruh aspek pelaksanaannya,” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Abu Rokhmad saat dikonfirmasi dari Jakarta, Senin (22/6/2026).
Abu menyebutkan bahwa ajang MTQ nasional bukan hanya sekadar perlombaan, melainkan juga sebuah momentum untuk memperkuat syiar Al Quran sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai kitab suci.
Merujuk pada arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar, MTQ diharapkan menjadi wadah untuk membangun generasi Qurani serta mengaktualisasikan nilai-nilai Al Quran di keseharian.
“MTQ Nasional ini adalah perlombaan yang betul-betul dilaksanakan secara objektif. Bahkan pada cabang tilawah, masyarakat awam pun dapat menilai dan merasakan kualitas performa peserta yang tampil,” tuturnya.
Terkait pembinaan, Abu Rokhmad menginstruksikan agar pelaksanaan training center (TC) dijalankan lebih intensif serta berkesinambungan, dengan pengawasan kesehatan peserta secara rutin.
“Kalau memungkinkan, training center dilakukan lebih intensif lagi. Kesehatan peserta juga harus dipantau dengan baik. Intinya adalah latihan yang terus-menerus dan berkesinambungan,” jelasnya.
Ia turut mengajak seluruh pihak untuk memandang MTQ layaknya kompetisi besar yang memerlukan strategi matang serta pemetaan potensi peserta yang cermat.
“Saya berulang-ulang menyampaikan bahwa kami harus jeli dan melihat MTQ ini seperti Piala Dunia. Coach harus mampu melihat cabang mana yang berpotensi menghasilkan medali. Mulai sekarang harus ada target-target yang realistis untuk dicapai,” tambah dia.
Di sisi lain, Kasubdit Lembaga Tilawah dan MTQ Kementerian Agama, Rijal Ahmad Rangkuty, menekankan pentingnya sinkronisasi antara panitia pusat dan daerah, khususnya dalam menyelaraskan tugas panitera serta master of ceremony (MC).
“Panitera memiliki peran krusial untuk memastikan kesesuaian antara peserta yang tampil dengan nomor urutnya. Oleh karena itu, kami akan sinkronkan panitia pusat dan provinsi melalui rapat pertemuan khusus antara panitera dan MC,” ungkap Rijal.
Selain itu, ia meminta panitia agar memastikan pelayanan terhadap tamu, pendampingan liaison officer (LO), serta kesiapan lokasi acara berjalan optimal. Menurutnya, seluruh pihak perlu belajar dari pengalaman penyelenggaraan MTQ sebelumnya agar berbagai kendala dapat diantisipasi sejak dini.