BPS

BPS Catat Surplus Perdagangan 0,95 Miliar Dolar AS di Tengah Lonjakan Impor Dua Digit

BPS Catat Surplus Perdagangan 0,95 Miliar Dolar AS di Tengah Lonjakan Impor Dua Digit
BPS Catat Surplus Perdagangan 0,95 Miliar Dolar AS di Tengah Lonjakan Impor Dua Digit

JAKARTA - Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada awal tahun kembali mencatatkan capaian positif meski di tengah lonjakan impor yang cukup tinggi. Data terbaru menunjukkan bahwa aktivitas ekspor dan impor sama-sama meningkat, namun neraca perdagangan tetap berada di zona surplus.

Capaian tersebut menjadi perhatian karena menggambarkan dinamika ekonomi nasional di tengah tantangan global. Angka surplus yang dibukukan pada Januari 2026 memperlihatkan daya saing produk nasional masih terjaga.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia periode Januari 2026 memperoleh keuntungan (surplus) sebesar 0,95 miliar dolar AS, dengan rincian ekspor 22,16 miliar dolar AS dan impor 21,20 miliar dolar AS. Selisih positif tersebut menunjukkan nilai ekspor masih lebih tinggi dibandingkan impor pada periode tersebut.

Surplus ini menjadi indikator penting dalam menilai stabilitas sektor eksternal Indonesia. Meski impor mengalami kenaikan signifikan, nilai ekspor tetap mampu menopang keseimbangan perdagangan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, menyampaikan ekspor produk nasional Januari 2026 meningkat 3,39 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedangkan impor mengalami lonjakan 18,21 persen yoy. Keterangan tersebut disampaikan sebagai bagian dari rilis resmi perkembangan perdagangan luar negeri.

Peningkatan ekspor secara tahunan memperlihatkan adanya pertumbuhan permintaan terhadap produk Indonesia di pasar global. Namun di sisi lain, pertumbuhan impor yang lebih tinggi juga menjadi catatan tersendiri dalam struktur perdagangan bulan tersebut.

Kinerja Ekspor Nasional Tumbuh Secara Tahunan

Disampaikan dia, peningkatan nilai ekspor tersebut ditopang oleh sektor nonmigas. Kontribusi sektor ini menjadi penopang utama dalam menjaga pertumbuhan ekspor secara keseluruhan.

Ekspor produk nonmigas utamanya didorong oleh industri pengolahan. Nilai ekspornya naik 8,19 persen secara tahunan dengan andil peningkatan sebesar 6,54 persen.

Kenaikan pada sektor industri pengolahan menunjukkan adanya penguatan pada aktivitas manufaktur berorientasi ekspor. Hal ini mencerminkan peran penting sektor hilirisasi dan nilai tambah dalam struktur ekspor nasional.

Pertumbuhan ekspor nonmigas juga memperlihatkan bahwa ketergantungan terhadap komoditas migas semakin berkurang. Diversifikasi produk ekspor menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan perdagangan luar negeri.

Secara keseluruhan, kenaikan 3,39 persen yoy pada ekspor Januari 2026 menjadi sinyal positif di awal tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa kinerja ekspor tetap tumbuh meski tidak setinggi lonjakan impor.

Lonjakan Impor Capai Dua Digit

Sementara untuk impor, disampaikan dia mengalami peningkatan secara tahunan yang utamanya didorong oleh peningkatan impor nonmigas. Kenaikan impor nonmigas tersebut memberikan andil 14,4 persen dari total keseluruhan pertumbuhan impor.

Lonjakan impor sebesar 18,21 persen yoy menjadi salah satu poin yang paling menonjol dalam laporan Januari 2026. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan barang dari luar negeri.

Peningkatan impor dapat berkaitan dengan kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk mendukung aktivitas produksi dalam negeri. Di sisi lain, kenaikan ini juga berdampak pada penyempitan selisih antara nilai ekspor dan impor.

Meskipun impor tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor, neraca perdagangan tetap mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS. Hal tersebut menunjukkan bahwa ekspor masih mampu mengimbangi tekanan dari sisi impor.

Kondisi ini menggambarkan dinamika yang cukup kompleks dalam perdagangan luar negeri Indonesia. Pertumbuhan di kedua sisi, baik ekspor maupun impor, menjadi cerminan aktivitas ekonomi yang terus bergerak.

Struktur Perdagangan dan Peran Nonmigas

Peran sektor nonmigas menjadi sorotan utama dalam laporan perdagangan Januari 2026. Baik dari sisi ekspor maupun impor, komponen nonmigas memberikan kontribusi besar terhadap perubahan nilai perdagangan.

Pada sisi ekspor, sektor industri pengolahan menjadi motor penggerak dengan kenaikan 8,19 persen yoy. Andil sebesar 6,54 persen dari sektor ini menunjukkan dominasi manufaktur dalam pembentukan nilai ekspor.

Sementara itu, dari sisi impor, peningkatan nonmigas menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan 18,21 persen yoy. Kontribusi 14,4 persen dari impor nonmigas memperlihatkan besarnya peran komponen ini dalam struktur impor nasional.

Dominasi nonmigas dalam perdagangan luar negeri menandakan pergeseran struktur ekonomi yang semakin beragam. Ketergantungan pada komoditas tertentu berangsur berkurang dengan semakin luasnya basis produk.

Kinerja perdagangan Januari 2026 juga mencerminkan interaksi antara kebutuhan domestik dan peluang pasar global. Ekspor tumbuh moderat, sementara impor meningkat lebih tinggi sebagai respons terhadap kebutuhan dalam negeri.

Gambaran Awal Tahun bagi Perekonomian Nasional

Surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS pada Januari 2026 menjadi pembuka tahun yang relatif positif bagi sektor eksternal Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa keseimbangan perdagangan masih terjaga meskipun tekanan impor meningkat.

Dengan nilai ekspor mencapai 22,16 miliar dolar AS dan impor 21,20 miliar dolar AS, struktur perdagangan tetap berada pada jalur surplus. Selisih tersebut mencerminkan daya tahan sektor ekspor dalam menghadapi lonjakan impor.

Pertumbuhan ekspor 3,39 persen yoy dan impor 18,21 persen yoy menjadi gambaran dinamika perdagangan yang cukup kontras. Keduanya menunjukkan aktivitas ekonomi yang meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data ini menjadi dasar evaluasi bagi pemangku kebijakan dalam merumuskan langkah lanjutan di sektor perdagangan dan industri. Perhatian terhadap keseimbangan antara ekspor dan impor akan tetap menjadi fokus ke depan.

Secara keseluruhan, laporan perdagangan Januari 2026 menggambarkan kondisi yang tetap terkendali di tengah kenaikan impor dua digit. Surplus yang tercatat menunjukkan fondasi perdagangan luar negeri Indonesia masih cukup kuat dalam memasuki awal tahun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index