JAKARTA - Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan pada penutupan perdagangan Senin, 9 Februari 2026. Lonjakan ini dipicu oleh imbauan Kementerian Transportasi AS agar kapal berbendera AS menjauhi wilayah Iran di Selat Hormuz dan Teluk Oman.
Brent berjangka ditutup naik 99 sen atau 1,5 persen menjadi USD 69,04 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 81 sen atau 1,3 persen menjadi USD 64,36 per barel.
Pergerakan Harga Minyak Mentah dan Dampaknya
Kenaikan harga minyak mentah terjadi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Investor menilai risiko gangguan pasokan membuat harga energi global bergerak lebih tinggi.
Sentimen pasar juga didorong oleh kekhawatiran potensi gangguan ekspor minyak melalui jalur strategis Selat Hormuz. Situasi ini menambah tekanan bullish bagi perdagangan minyak di awal Februari 2026.
Penguatan Komoditas Energi Lainnya
Selain minyak, harga batu bara ICE Newcastle juga mengalami penguatan pada penutupan perdagangan Senin. Kontrak Maret 2026 naik tipis 0,21 persen menjadi USD 117,50 per ton, menunjukkan permintaan energi fosil tetap stabil.
Penguatan batu bara sejalan dengan harga minyak yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan investor kembali melirik sektor energi sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik.
Kenaikan Harga CPO dan Nikel
Harga minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) tercatat naik 0,22 persen menjadi MYR 4.162 per ton. Lonjakan ini diiringi permintaan kuat dari sektor ekspor dan penguatan harga komoditas global.
Harga nikel juga terpantau naik 1,01 persen menjadi USD 17.410 per ton. Penguatan ini mendorong optimisme pelaku industri logam dan bahan baku energi di pasar global.
Lonjakan Harga Timah dan Implikasinya
Sementara itu, harga timah mengalami kenaikan signifikan pada penutupan perdagangan Senin. Berdasarkan London Metal Exchange, harga timah naik 5,09 persen dan menetap di USD 49.098 per ton.
Kenaikan harga logam ini menjadi sinyal positif bagi industri pertambangan. Peningkatan harga timah dan nikel di pasar global memberikan peluang ekspansi serta perbaikan margin keuntungan produsen.
Dampak Keseluruhan terhadap Pasar dan Investor
Kenaikan harga minyak, batu bara, CPO, nikel, dan timah mencerminkan tren penguatan komoditas strategis di awal tahun 2026. Investor menilai momen ini sebagai peluang untuk menata portofolio di sektor energi dan logam.
Sentimen positif pasar komoditas juga berpotensi berdampak pada harga energi dan logam di Indonesia. Perusahaan lokal di sektor minyak, kelapa sawit, dan logam menyiapkan strategi untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga global.
Dengan adanya penguatan harga di berbagai komoditas, negara produsen di Asia dan Timur Tengah diperkirakan akan mendapatkan keuntungan tambahan dari ekspor. Para analis juga mencatat bahwa stabilitas pasokan menjadi faktor kunci untuk mempertahankan harga tinggi.
Harga minyak mentah yang naik setelah imbauan keamanan di Selat Hormuz menunjukkan bahwa geopolitik tetap memegang peranan penting. Situasi ini mengingatkan pelaku pasar bahwa risiko politik dapat memengaruhi harga energi secara cepat.
Selain itu, penguatan harga CPO, nikel, dan timah menjadi indikasi permintaan global yang terus meningkat. Hal ini memicu optimisme bagi sektor manufaktur dan logam di Asia Tenggara.
Harga batu bara yang stabil dan sedikit naik menegaskan ketahanan permintaan energi tradisional. Investor dan produsen mulai menyesuaikan strategi produksi agar sejalan dengan tren harga terbaru.
Penguatan semua komoditas strategis ini juga berdampak pada pasar saham terkait energi dan pertambangan. Perusahaan energi dan logam besar cenderung mencatat peningkatan valuasi seiring dengan kenaikan harga global.
Secara keseluruhan, kenaikan harga minyak dan logam menunjukkan tren bullish untuk pasar komoditas awal 2026. Investor, produsen, dan eksportir kini memanfaatkan momentum ini untuk merencanakan ekspansi dan meningkatkan keuntungan.