Impor Bahan Baku

Kontraksi Impor Bahan Baku RI Sementara Manufaktur Tunjukkan Ekspansi Positif

Kontraksi Impor Bahan Baku RI Sementara Manufaktur Tunjukkan Ekspansi Positif
Kontraksi Impor Bahan Baku RI Sementara Manufaktur Tunjukkan Ekspansi Positif

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor bahan baku penolong Indonesia selama 2025 mengalami kontraksi 0,83 persen. Total impor bahan baku tercatat sebesar US$169,3 miliar, sedikit menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai US$170,7 miliar.

Proporsi bahan baku penolong terhadap total impor juga menurun dari 72,58 persen menjadi 70 persen dari total US$241,8 miliar. Penurunan ini menandai pergeseran struktur impor Indonesia di tengah dinamika ekonomi domestik dan global.

Impor Barang Modal dan Konsumsi

Sementara itu, impor barang modal menjadi satu-satunya kategori yang tumbuh positif, mencapai 20,06 persen. Nilainya mencapai US$50,1 miliar, naik dari proporsi 17,75 persen pada tahun sebelumnya, didorong oleh pembelian mesin dan kendaraan.

Di sisi lain, impor barang konsumsi tercatat turun 1,3 persen menjadi US$22,4 miliar. Kontraksi ini membuat proporsi barang konsumsi terhadap total impor berada di angka 9,27 persen, menandakan penurunan permintaan domestik untuk barang konsumsi luar negeri.

Kinerja Manufaktur Indonesia

Di tengah penurunan impor bahan baku, indeks manufaktur Indonesia justru kembali ke level ekspansi. Pada Januari 2026, indeks produktivitas mencapai 52,6, meningkat dari Desember 2025 yang berada di angka 51,2, menunjukkan perbaikan aktivitas industri.

Laporan terbaru S&P Global pada 2 Februari 2026 menyoroti bahwa pemulihan manufaktur ini didorong oleh kenaikan pesanan baru dan output produksi. Meski demikian, permintaan ekspor masih tertahan sehingga ekspansi manufaktur lebih bertumpu pada pasar domestik.

Menurut ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, pertumbuhan manufaktur sebagian besar berasal dari permintaan dalam negeri. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor industri Indonesia mulai stabil meski tekanan eksternal masih terasa.

Permintaan Baru dan Output Produksi

Peningkatan kinerja manufaktur didorong oleh pesanan baru yang meningkat selama enam bulan berturut-turut. Output produksi juga naik, mencatat laju tercepat dalam 11 bulan terakhir, menunjukkan respons positif terhadap permintaan domestik.

Perusahaan menambah aktivitas pembelian bahan baku serta memperbesar persediaan input dan barang jadi. Langkah ini dilakukan untuk menghadapi penumpukan pekerjaan yang belum terselesaikan selama tiga bulan berturut-turut.

Ekspansi manufaktur terlihat berbanding terbalik dengan kontraksi impor bahan baku. Hal ini menunjukkan industri dalam negeri mulai mengoptimalkan sumber daya lokal dan stok yang tersedia.

Ekspektasi dan Kepercayaan Dunia Usaha

Kepercayaan dunia usaha meningkat, dengan ekspektasi positif untuk 12 bulan ke depan mencapai level tertinggi sejak Maret 2025. Pengusaha industri optimistis bahwa permintaan domestik yang lebih kuat akan terus mendorong produksi sepanjang tahun.

Tumpukan pekerjaan menjadi indikator aktivitas jangka pendek yang naik tiga bulan berturut-turut. Kondisi ini menunjukkan optimisme dunia usaha meski tekanan pada permintaan ekspor masih terasa.

Meskipun ketenagakerjaan turun sejak Juli 2025, pengusaha tetap menambah produksi. Penurunan tenaga kerja tidak menghalangi aktivitas manufaktur yang didukung peningkatan output dan persediaan.

Dinamika Permintaan Domestik dan Ekspor

Permintaan domestik menjadi motor utama pemulihan manufaktur, sementara pesanan ekspor baru masih mengalami kontraksi. Hal ini menunjukkan ketergantungan manufaktur terhadap pasar lokal pada awal 2026.

Kendati ekspor tertahan, kenaikan permintaan domestik membantu menstabilkan sektor manufaktur. Industri mulai mengandalkan pasar internal sebagai penopang pertumbuhan dan aktivitas produksi.

Perusahaan menyesuaikan strategi dengan fokus pada produksi untuk memenuhi kebutuhan domestik. Hal ini sekaligus memitigasi risiko ketergantungan terhadap fluktuasi permintaan global.

Implikasi Ekonomi dari Tren Kontraksi Impor

Kontraksi impor bahan baku penolong tidak selalu menandakan melemahnya industri. Dalam kasus ini, manufaktur tetap ekspansif karena penumpukan stok dan permintaan domestik yang kuat.

Namun, penurunan impor bahan baku dapat berdampak pada ketersediaan komoditas tertentu di masa mendatang. Industri perlu mengelola pasokan agar tidak terjadi kekurangan bahan baku yang dapat menghambat produksi.

Tren ini menunjukkan bahwa stabilitas manufaktur Indonesia tidak semata tergantung pada impor. Pemanfaatan bahan baku lokal dan strategi manajemen persediaan menjadi faktor penting bagi pertumbuhan industri.

Kesimpulan dan Outlook Industri

Januari 2026 menampilkan fenomena unik: impor bahan baku menurun, sementara manufaktur menunjukkan ekspansi positif. Hal ini menegaskan peran penting permintaan domestik dalam menopang sektor industri.

Pengusaha industri dan pemerintah perlu terus memantau dinamika ini. Dengan manajemen stok yang baik dan dukungan kebijakan yang tepat, manufaktur dapat tetap ekspansif meski impor mengalami kontraksi.

Fokus pada permintaan domestik dan optimalisasi sumber daya lokal menjadi kunci bagi keberlanjutan ekspansi industri. Pemahaman tren ini juga membantu menghadapi ketidakpastian pasar global di sisa tahun 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index