JAKARTA - PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) mencatatkan penyaluran pembiayaan kendaraan listrik (EV) sebesar Rp 750 miliar pada 2025. Mayoritas pembiayaan ini berasal dari segmen mobil listrik, dibandingkan motor listrik.
Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani, menegaskan bahwa lebih dari 90% pembiayaan disumbang oleh mobil listrik. Pernyataan ini disampaikannya saat ditemui di Jakarta Selatan pada Minggu, 1 Februari 2026.
Proyeksi Pertumbuhan Mobil Listrik di Indonesia
Direktur Penjualan, Pelayanan, dan Distribusi Adira Finance, Niko Kurniawan, memproyeksikan pembiayaan mobil listrik akan terus meningkat di masa depan. Tren global menunjukkan mobil listrik lebih berkembang dibandingkan motor listrik, sehingga potensi pasar di Indonesia cukup besar.
Banyak merek mobil listrik baru, khususnya dari China, mampu meraih pangsa pasar hingga 20% di beberapa negara. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen semakin terbuka terhadap kendaraan listrik, terutama mobil yang lebih praktis dan nyaman.
Niko mencontohkan kondisi di Norwegia dan Skandinavia, di mana hingga 80% kendaraan yang beredar adalah EV. Keberhasilan ini didukung kebijakan ramah lingkungan dan keberadaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang luas.
Di Indonesia, infrastruktur kendaraan listrik masih terbatas, karena SPKLU belum banyak tersebar. Meski demikian, insentif pemerintah, seperti biaya STNK lebih murah, memberikan peluang pertumbuhan yang tinggi untuk EV.
Dukungan OJK terhadap Pembiayaan Kendaraan Listrik
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pembiayaan kendaraan listrik industri multifinance akan terus bertumbuh pada 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya minat masyarakat, pilihan merek yang semakin banyak, dan dukungan kebijakan pemerintah.
Perusahaan multifinance diminta memperkuat manajemen risiko dan menyesuaikan skema pembiayaan dengan karakteristik kendaraan listrik. Kolaborasi dengan ekosistem otomotif dan penyedia infrastruktur pendukung juga dianggap penting untuk mendukung pertumbuhan pasar EV.
Agusman menambahkan bahwa penguatan ekosistem dan skema pembiayaan yang tepat akan menjaga kinerja pembiayaan kendaraan listrik pada 2026. Hal ini penting agar industri multifinance dapat memanfaatkan peluang yang ada secara optimal.
Kinerja Industri Multifinance dan Pertumbuhan EV di Indonesia
OJK mencatat pembiayaan kendaraan listrik industri multifinance mencapai Rp 21,31 triliun per November 2025. Nilainya tumbuh 1,99% secara month to month (mtm), menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan.
Pertumbuhan ini menandakan bahwa masyarakat semakin tertarik pada kendaraan ramah lingkungan. Semakin banyak pilihan merek dan dukungan kebijakan pemerintah membuat peluang investasi di sektor EV terus meningkat.
Dengan kombinasi insentif pemerintah, meningkatnya pilihan kendaraan, dan dukungan infrastruktur, pembiayaan kendaraan listrik berpotensi menjadi salah satu sektor unggulan. Perusahaan multifinance yang menyiapkan strategi tepat akan mampu meraih pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Kolaborasi antara lembaga pembiayaan, produsen mobil listrik, dan penyedia infrastruktur menjadi kunci kesuksesan. Sinergi ini akan mempermudah konsumen mengakses EV sekaligus menjaga kestabilan kinerja industri multifinance.
Pertumbuhan mobil listrik di Indonesia masih berada di tahap awal jika dibandingkan negara-negara Eropa. Namun, dengan tren global yang mendukung, pasar domestik memiliki potensi untuk berkembang pesat dalam waktu dekat.
Keberhasilan negara lain, seperti Norwegia, menjadi inspirasi bagaimana kebijakan, infrastruktur, dan insentif mampu mendorong penetrasi EV. Jika Indonesia mampu meniru strategi ini, pembiayaan kendaraan listrik dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan industri multifinance.
Selain mobil, kendaraan listrik lainnya, seperti motor listrik, juga memiliki potensi untuk berkembang. Meski kontribusinya saat ini kecil, inovasi dan penyesuaian produk di masa depan dapat meningkatkan minat konsumen secara signifikan.
Peningkatan infrastruktur, termasuk pembangunan SPKLU yang lebih luas, menjadi faktor kunci dalam mempercepat adopsi EV di Indonesia. Pemerintah dan swasta perlu bekerja sama agar pengguna EV merasa lebih nyaman dan praktis.
Dengan dukungan OJK dan kebijakan pemerintah, perusahaan multifinance memiliki peluang besar untuk memperluas pembiayaan kendaraan listrik. Peningkatan ini akan mendorong pertumbuhan industri otomotif ramah lingkungan di Indonesia secara keseluruhan.
Kolaborasi yang tepat antara produsen mobil listrik, penyedia infrastruktur, dan lembaga pembiayaan akan memastikan adopsi EV meningkat. Strategi ini tidak hanya menguntungkan industri, tetapi juga mendorong masyarakat beralih ke kendaraan ramah lingkungan.
Kesimpulannya, pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik di Indonesia masih menjanjikan. Dengan dukungan kebijakan, kolaborasi ekosistem, dan inovasi produk, industri multifinance bisa terus memperkuat posisinya di pasar kendaraan ramah lingkungan.