Bahlil Ungkap Penyebab Ekspor Listrik Hijau ke Singapura Tertunda

Selasa, 07 Juli 2026 | 22:30:31 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa penentuan harga sejauh ini menjadi hambatan utama yang menyebabkan program ekspor listrik hijau dari Indonesia menuju Singapura masih belum berjalan. 

Pemerintah Indonesia saat ini masih terus melakukan pembahasan dengan pihak Singapura demi meraih kesepakatan harga yang dinilai memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. 

Berdasarkan aturan yang berlaku di Indonesia, keputusan mengenai harga ekspor listrik berada di bawah otoritas pemerintah.

"Terkait dengan harga listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kita masih menegosiasikan harga. Regulasi kita memang menempatkan harga itu di pemerintah," ujar Bahlil lewat pernyataan resminya pada Selasa (7/7/2026).

"Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu," sambungnya.

Bahlil memaparkan bahwa dialog mengenai ekspor listrik ini ialah bagian dari kemitraan sektor energi yang telah disepakati oleh Indonesia dan Singapura sejak tahun kemarin.

Pada momen tersebut, kedua negara menyepakati tiga nota kesepahaman (MoU), yang meliputi ekspor listrik hijau, pembangunan kawasan industri hijau, serta kemitraan dalam aspek carbon capture and storage (CCS).

"Ketiganya merupakan satu kesatuan yang kita tandatangani sejak tahun kemarin," ucap Bahlil.

Berdasarkan penilaiannya, progres pembahasan terkait ketiga lini kerja sama tersebut menunjukkan tren yang positif. Kendati demikian, proses negosiasi tarif ekspor listrik tetap harus dituntaskan terlebih dahulu sebelum proyek ini dapat mulai dioperasikan.

Pemerintah berkomitmen untuk memastikan bahwa aktivitas ekspor listrik hijau ini tidak sekadar membuka keran perdagangan energi bersih, melainkan juga memberikan dampak ekonomi yang berimbang bagi Indonesia maupun Singapura. 

Agenda perdagangan listrik antarnegara ini pun diproyeksikan sebagai bagian dari penguatan ikatan ekonomi kedua negara, khususnya dalam sektor pengembangan energi hijau serta transisi energi. 

Oleh sebab itu, pencapaian kesepakatan harga dipandang sangat krusial agar ekspor listrik tidak cuma menjadi urusan komersial biasa, melainkan juga mendatangkan keuntungan ekonomi bagi Indonesia sekaligus merawat keberlanjutan kemitraan energi bersama Singapura.

Terkini