Strategi HRTA Kejar Target Rp70 Triliun Saat Harga Emas Turun

Senin, 06 Juli 2026 | 04:18:02 WIB
PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA). (Foto: NET)

JAKARTA – Emiten yang bergerak di bidang produksi perhiasan emas, PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) tetap memandang positif prospek industri logam mulia ini dalam jangka panjang, meskipun pergerakan harganya cenderung melemah sepanjang tahun 2026.

Berdasarkan data dari Trading Economics, nilai emas mengalami penurunan dari posisi US$4.446 per troy ons di awal tahun menjadi US$4.148,8 per troy ons pada penutupan perdagangan hari ini. Hal tersebut menandakan adanya koreksi harga sebesar 6,70% sepanjang tahun berjalan ini.

Merespons kondisi tersebut, Direktur Investor Relations Hartadinata Abadi, Thendra Crisnanda berpendapat bahwa penurunan ini merupakan bagian dari dinamika pasar komoditas yang lumrah terjadi. 

Ia menilai faktor pendorong minat masyarakat terhadap emas masih tergolong kuat, dipengaruhi oleh ketidakpastian kondisi geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta kesadaran publik yang meningkat untuk berinvestasi emas.

"Kami melihat fundamental permintaan emas masih tetap kuat, didukung oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menabung emas serta berkembangnya ekosistem bullion di Indonesia. Karena itu, kami tetap optimistis terhadap prospek industri emas dalam jangka panjang," ujar Thendra dalam keterangan resminya, Senin (6/7/2026).

Ia menambahkan, fluktuasi nilai emas dipengaruhi oleh bermacam-macam sentimen. Dari skala global, proyeksi pasar terkait kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lama (higher for longer) oleh The Fed berimbas pada penguatan mata uang dolar AS, sehingga memberikan tekanan terhadap emas. 

Di samping itu, tensi geopolitik dunia juga masih menjadi pemicu fluktuasi di pasar.

"Meski demikian, tingginya permintaan emas dari bank sentral global serta berlanjutnya akumulasi cadangan emas diperkirakan masih akan menjadi penopang prospek harga emas dalam jangka menengah hingga panjang," katanya.

Ke depannya, Thendra menegaskan pihak perusahaan fokus memperkokoh fundamental bisnis demi menjaga tren pertumbuhan yang berkelanjutan. 

Langkah yang diambil perseroan meliputi penguatan tata kelola perusahaan (GCG), pengelolaan risiko, hingga kepatuhan pada regulasi yang berlaku di seluruh lini operasional serta rantai pasok mereka.

Di sisi lain, Direktur Utama Hartadinata Sandra Sunanto sebelumnya menyampaikan bahwa perusahaan menargetkan total pendapatan dapat menyentuh angka Rp70 triliun pada tahun ini. 

Target tersebut ditetapkan dengan melihat peluang bisnis yang tetap terbuka di tengah proses normalisasi harga emas dunia. HRTA juga membidik perolehan laba bersih di kisaran Rp1,4 triliun sampai Rp1,5 triliun untuk periode yang sama.

”Kami tetap optimistis dan kinerja HRTA akan tumbuh lebih baik lagi di 2026 terlepas dari memang harga emas dunia yang sekarang saat ini sedang recovery,” kata Sandra dalam paparan publik HRTA, Rabu (3/6/2026).

Menurut pandangannya, koreksi pada harga emas global akhir-akhir ini justru membentuk situasi pasar yang jauh lebih sehat bila dibandingkan dengan masa sebelumnya yang penuh gejolak volatilitas. Pihak HRTA mengistilahkan fase ini sebagai masa recovery pricing.

Sandra memaparkan bahwa stabilitas harga emas berpeluang memicu kembali ketertarikan pasar, baik dalam bentuk emas batangan maupun produk perhiasan. Situasi ini dinilai jauh lebih mendukung bagi perkembangan bisnis ketimbang pergerakan harga yang naik-turun secara drastis.

“Kami cukup senang dengan era recovery pricing ini. Demand itu lebih muncul lagi, terutama tidak hanya untuk emas batangan tetapi juga untuk perhiasan,” katanya.

Terkini