Ekspor Beras RI: Kualitas dan Efisiensi Jadi Kunci Utama

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:25:02 WIB
Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian. (Foto: NET)

JAKARTA - Rencana pemerintah untuk melakukan ekspor beras ke beberapa negara, seperti Singapura, dianggap sebagai kabar baik bagi industri pertanian di dalam negeri. 

Meski demikian, produk beras Indonesia dirasa belum mampu bersaing di pasar umum berskala besar karena tingkat efisiensi biaya serta daya saingnya masih berada di bawah Vietnam dan Thailand.

Menurut pandangan Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, kesempatan Indonesia untuk mengekspor beras masih terbuka lebar apabila membidik ceruk pasar khusus atau segmen premium, bukan menyasar pasar umum yang sangat sensitif terhadap perubahan harga.

"Indonesia saat ini belum sepenuhnya kompetitif untuk ekspor massal ke Singapura di segmen standar atau harga rendah. Harga beras kita lebih mahal karena biaya produksi lebih tinggi, sementara kualitas, khususnya aroma dan positioning, masih berada di bawah Thailand maupun Vietnam," ujar Eliza, Selasa (30/6/2026).

Eliza menambahkan bahwa stok beras yang tersimpan di gudang Bulog saat ini didominasi oleh kelas medium. Hal ini membuat Indonesia kesulitan untuk bertarung di pasar massal yang sudah lama dikuasai oleh Thailand dan Vietnam. 

Oleh sebab itu, strategi penjualan ke luar negeri sebaiknya dialihkan pada komoditas premium yang memiliki nilai tambah khusus, seperti varietas khas daerah, aspek keberlanjutan, hingga narasi asal-usul produk. Target pasar yang dinilai paling cocok untuk segmen ini adalah sektor hotel, restoran, dan katering (HOREKA).

"Kalau targetnya pasar niche, peluangnya masih terbuka lebar. Tetapi kalau menyasar pasar konsumsi massal, Indonesia harus mampu bersaing dengan Thailand dan Vietnam. Kuncinya bukan hanya pada volume produksi, tetapi juga kualitas dan efisiensi biaya produksi," katanya.

Walau begitu, langkah ekspor ini dinilai sebagai momen yang tepat untuk mendongkrak posisi tawar Indonesia di tingkat regional. Namun, kesuksesan agenda ini tidak boleh hanya bertumpu pada kelebihan jumlah produksi yang ada sekarang.

"Ambisi ekspor beras merupakan langkah positif. Tapi keberhasilannya bergantung pada perbaikan fundamental, terutama efisiensi dan kualitas. Tanpa itu, kami akan terus kalah bersaing dengan Vietnam dan Thailand yang sudah lebih efisien dan mapan," ujarnya.

Ia memaparkan bahwa kelebihan produksi yang terjadi saat ini dipicu oleh faktor cuaca yang mendukung serta beragam bantuan dari pemerintah bagi para petani di sepanjang tahun 2025 yang sukses memperluas area tanam dan mendongkrak hasil panen. 

Kendati tren produksi masih memperlihatkan hasil positif, Eliza mengingatkan bahwa risiko perubahan iklim seperti fenomena El Nino yang lebih kering dan panjang di masa depan wajib diwaspadai agar kondisi surplus ini tidak berlangsung sementara saja.

Menurutnya, keberlanjutan hasil panen sangat bergantung pada kesiapan sektor pertanian dalam menghadapi perubahan iklim, ancaman hama, serta risiko kekeringan. 

Untuk strategi jangka pendek, pemerintah disarankan untuk mempertahankan area sawah yang ada, mempercepat proyek irigasi, memperbanyak benih yang tahan terhadap kekeringan, dan mengamankan cadangan beras negara.

Sedangkan untuk strategi jangka menengah, diperlukan pembenahan struktural seperti penggabungan lahan, penciptaan varietas unggul yang adaptif terhadap iklim, hilirisasi sektor pertanian, hingga pemberian bantuan yang memicu efisiensi para petani demi menjaga stabilitas produksi.

"Surplus 2025-2026 ini merupakan window of opportunity. Kalau tidak dimanfaatkan untuk investasi membangun resiliensi pertanian, kami berisiko kembali ke pola boom-bust, yaitu swasembada sesaat lalu kembali bergantung pada impor," katanya.

Sebelumnya, langkah untuk mengekspor komoditas ini mulai dibuka oleh pemerintah seiring dengan tren positif performa produksi domestik. 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyodorkan penjualan minimal 10.000 ton beras premium kepada Singapura saat mengadakan pertemuan dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu Hai Yien, pada Senin (29/6/2026). 

Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari strategi ekspansi pasar beras nasional di kancah regional.

Merespons tawaran tersebut, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan bahwa pihaknya siap sedia jika mendapatkan tugas dari pemerintah untuk mengirim pasokan beras ke Singapura. 

Ia menyatakan bahwa Bulog telah mencadangkan sekitar 200.000 ton beras premium dengan kadar patahan 5% yang siap dikapalkan kapan saja jika ada permintaan dari negara tujuan.

"Kami sudah ada stok standby 200.000 ton beras premium pecahan 5%. Jika sewaktu-waktu diminta kirim cepat, kami bisa langsung lakukan," ujar Rizal.

Bukan hanya Singapura, Bulog juga sedang menjajaki peluang pengiriman ke Malaysia serta Uni Emirat Arab. Untuk pasar Malaysia, agenda ekspor sekitar 500.000 ton beras kini sudah masuk dalam tahap finalisasi kesepakatan harga. 

Di sisi lain, Uni Emirat Arab diketahui memiliki tingkat kebutuhan beras mencapai 50.000 ton per bulan atau berkisar 600.000 ton dalam setahun, yang mana hal ini menjadi peluang besar bagi komoditas beras asal Indonesia.

Rizal memastikan bahwa program ekspor ini tidak akan mengganggu pemenuhan pangan di dalam negeri. Per tanggal 29 Juni 2026, Bulog tercatat sudah menyerap lebih dari 3,2 juta ton beras atau setara dengan 80% dari total target pengadaan tahun ini yang sebesar 4 juta ton. 

Dengan menyisakan waktu enam bulan ke depan, Bulog optimistis total penyerapan hingga akhir tahun dapat menembus angka 4,5 juta hingga 5 juta ton.

"Tingginya serapan tersebut perlu diimbangi dengan penyaluran, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun melalui ekspor. Kami berharap beras Indonesia dapat semakin diterima di pasar internasional," kata Rizal.

Terkini