Produksi Beras RI Tertinggi di Asia Tenggara dan Peringkat 4 Dunia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 19:07:31 WIB
Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Foto: NET)

JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) merujuk data Badan Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) menyatakan bahwa Indonesia menjadi negara dengan produksi beras tertinggi di Asia Tenggara serta menduduki posisi keempat di dunia setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh sepanjang tahun 2025.

"FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi tertinggi keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh," ujar Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Namun, menurut Andi Amran, di antara empat negara produsen terbesar dunia tersebut, hanya Tiongkok dan Indonesia yang diprediksi menunjukkan perkembangan produksi beras ke arah positif. 

Jika membandingkan estimasi produksi beras periode 2025/2026 dengan 2024/2025, Indonesia menjadi negara dengan lonjakan produksi paling signifikan dibandingkan produsen utama dunia lainnya. 

Peningkatan produksi beras nasional diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta ton, jauh melampaui India sebesar 1,7 juta ton, Brasil 1,5 juta ton, serta Bangladesh 1,1 juta ton.

Perkembangan sektor perberasan Indonesia ini pun kembali diakui oleh FAO. Selain mengumumkan peningkatan produksi, FAO melaporkan bahwa Indonesia berhasil menjaga kestabilan harga di tingkat petani sekaligus mencatatkan peningkatan stok beras. 

Dalam Food Outlook edisi Juni 2026, FAO menyebut peningkatan stok beras di Indonesia turut berperan dalam menjaga cadangan beras dunia. Organisasi pangan tersebut memproyeksikan stok beras global pada akhir 2026/2027 dapat menyentuh angka 213,8 juta ton, rekor tertinggi kedua dalam satu dekade terakhir.

Andi Amran menegaskan, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) secara nasional yang dikelola Perum Bulog saat ini masih berada di atas 5 juta ton, sehingga Indonesia dipastikan tidak akan membuka kembali izin impor beras konsumsi.

"Stok (CBP) kami per hari ini bulan Juni, berada pada sekitar 5,2 juta ton sampai dengan hari ini dan stok kami aman. Tapi yang terpenting, (sejak) tahun 2025 tidak ada keluar izin impor beras medium (sampai sekarang)," ucapnya.

Ia bahkan mempersilakan pihak-pihak yang meragukan melimpahnya stok CBP untuk meninjau langsung gudang-gudang Bulog di berbagai daerah sebagai bukti optimisme pemerintah terhadap ketersediaan pangan dalam negeri.

"Kapasitas (gudang) Bulog hanya 3 juta ton. Tapi stok kami 5,2 juta ton. Artinya Bulog hari ini menyewa gudang (kapasitas) 2,2 juta ton. (Jadi untuk) yang belum yakin, silakan ke gudang Bulog seluruh Indonesia," imbuh Andi Amran.

Terkait proyeksi closing stocks dalam Food Outlook Juni 2026, FAO memperkirakan stok beras Indonesia mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026 dan berpotensi meningkat hingga 7,8 juta ton pada periode 2026/2027, yang sekaligus membuka peluang ekspor beras yang lebih luas.

"Dan satu lagi, beras bukan lagi penyumbang inflasi utama. Ini sudah dua tahun berturut-turut," katanya.

Tingkat inflasi beras bulanan di Indonesia cenderung melandai dalam dua tahun terakhir. Setelah mencapai angka 3,59 persen pada Mei 2024, inflasi beras tercatat lebih stabil. Sempat berfluktuasi pada Juli 2025 di angka 1,35 persen, inflasi beras pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,38 persen.

Kendati inflasi beras cukup rendah, kondisi petani tetap terjaga. Laporan terbaru FAO menunjukkan bahwa harga produsen yang stabil di beberapa negara, termasuk Indonesia, Korea Selatan, Pakistan, dan Filipina, mendorong petani untuk tetap memilih menanam padi. 

Hal ini berkontribusi positif terhadap peningkatan panen, berbeda dengan Kamboja, India, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand yang dilaporkan mengalami penurunan produksi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pun mencerminkan tren progresif pada indeks harga petani padi di Indonesia. Pada Mei 2026, indeks harga yang diterima petani padi mencapai 147,97, yang merupakan level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. 

Begitu pula dengan indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Tanaman Pangan yang menyentuh angka 113,79 pada bulan Mei, angka tertinggi sepanjang tahun 2026.

Terkini