Allo Bank Andalkan Transaksi Digital demi Jaga Pertumbuhan Dana Murah

Jumat, 19 Juni 2026 | 03:06:32 WIB
PT Allo Bank Indonesia Tbk. (Foto: NET)

JAKARTA – Di tengah tren suku bunga tinggi dan kompetisi likuiditas yang semakin intens, PT Allo Bank Indonesia Tbk tetap optimistis dalam mempertahankan pertumbuhan dana murah atau current account savings account (CASA). 

Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, menjelaskan bahwa rasio CASA perseroan masih berada dalam tren positif, sekalipun nasabah mulai menunjukkan sensitivitas terhadap imbal hasil dan cenderung memindahkan dana ke instrumen deposito.

Menurutnya, aktivitas transaksi nasabah di platform digital menjadi motor utama dalam menopang dana murah. 

“Bagi kami, CASA bukan semata-mata fungsi dari suku bunga, melainkan hasil dari tingkat engagement nasabah. Semakin tinggi frekuensi transaksi dan semakin relevan layanan yang digunakan dalam keseharian nasabah, maka semakin besar kecenderungan dana untuk tetap berada dalam rekening tabungan maupun giro,” ujar Destya, Jumat (19/6/2026).

Destya tidak menampik adanya perpindahan sebagian dana nasabah ke deposito karena daya tarik suku bunga saat ini. Namun, ia menilai pergerakan tersebut masih dalam koridor normal dan tidak mengganggu struktur pendanaan bank. 

“Terkait pergeseran dana, kami memang melihat adanya kecenderungan sebagian nasabah untuk mengoptimalkan pengelolaan dananya melalui deposito. Namun pergerakan tersebut masih dalam batas yang wajar dan merupakan dinamika yang lazim terjadi dalam siklus suku bunga,” katanya.

Menghadapi persaingan likuiditas, Allo Bank pun merasakan tekanan terhadap biaya dana (cost of fund). Meski demikian, perusahaan mengklaim tetap mampu mengelola biaya secara disiplin melalui kombinasi pertumbuhan dana ritel, efisiensi pengelolaan likuiditas, serta optimalisasi komposisi pendanaan. 

“Kompetisi likuiditas serta strategi pricing yang dilakukan berbagai pemain tentu memberikan dampak terhadap biaya penghimpunan dana. Namun hingga saat ini kami masih mampu mengelola cost of fund secara disiplin,” ujarnya.

Lebih lanjut, Destya menambahkan bahwa lingkungan suku bunga tinggi memang berisiko menekan net interest margin (NIM). Akan tetapi, profitabilitas tidak hanya bergantung pada NIM saja. 

Kualitas aset, ekspansi kredit yang sehat, efisiensi operasional, hingga peningkatan fee based income merupakan faktor krusial bagi kinerja keuangan. 

“Peningkatan kualitas aset, pertumbuhan kredit yang sehat, efisiensi operasional, serta kontribusi fee-based income juga menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja keuangan secara keseluruhan,” katanya.

Hingga tutup tahun, Allo Bank tetap optimistis dapat mempertahankan bahkan meningkatkan rasio CASA. Perseroan memandang tantangan utama bukan terletak pada perang bunga deposito, melainkan upaya menjadikan rekening Allo Bank sebagai rekening utama nasabah untuk aktivitas harian. 

Strategi perusahaan berfokus pada penguatan ekosistem digital, termasuk perluasan layanan QRIS, pembayaran tagihan, serta fitur pendukung lainnya untuk meningkatkan frekuensi interaksi. 

“Kami meyakini bahwa dana murah yang paling berkualitas adalah dana yang terbentuk dari aktivitas transaksi dan loyalitas nasabah. Oleh karena itu, fokus utama kami adalah membangun engagement yang lebih dalam dan berkelanjutan,” tutur Destya.

Terkini