ASEAN Perbarui 21 Proyek Strategis untuk Perkuat Konektivitas Kawasan

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:21:31 WIB
Chair ASEAN Committee on Sustainable Infrastructure (ACSI) sekaligus Undersecretary Department of Economy, Planning, and Development (DEPDev) Filipina, Joseph J. Capuno. (Foto: NET)

JAKARTA – Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) melakukan pembaruan daftar proyek prioritas infrastruktur regional melalui ASEAN Infrastructure Pipeline. 

Kini, terdapat 21 proyek strategis di sektor transportasi, energi, dan digital yang dipersiapkan untuk memperkokoh konektivitas kawasan sekaligus menggaet minat investasi.

Chair ASEAN Committee on Sustainable Infrastructure (ACSI) sekaligus Undersecretary Department of Economy, Planning, and Development (DEPDev) Filipina, Joseph J. Capuno, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan mendukung akselerasi pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan siap modal.

"Dengan dukungan pemerintah Australia melalui Australia-ASEAN Futures Initiative serta bantuan teknis dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation, pipeline ini telah diperbarui. Selain 12 proyek yang berlanjut, terdapat sembilan proyek baru yang ditambahkan setelah melalui proses penilaian yang ketat," ujar Capuno dalam ASEAN Infrastructure Discussion Series di Asia Infrastructure Forum (AIF) 2026, Singapura, Rabu (17/6/2026).

Menurut Capuno, seluruh proyek dalam pipeline tersebut telah memperoleh dukungan dari negara anggota ASEAN dan disesuaikan dengan target pembangunan kawasan. Kriteria seleksi mencakup aspek konektivitas regional, ketahanan infrastruktur, kelayakan ekonomi, kesiapan proyek, hingga kapasitas eksekusi.

Ia memaparkan bahwa mayoritas proyek masih berada pada fase pengembangan awal. Oleh karena itu, studi kelayakan, pendampingan transaksi, serta keterlibatan investor sejak dini sangat krusial. 

"Di banyak kasus, tantangannya bukan pada ketersediaan modal, melainkan pada ketersediaan proyek yang cukup matang untuk memperoleh kepercayaan investor," katanya.

Capuno menekankan bahwa dukungan tahap awal atau upstream support adalah instrumen paling efektif untuk mengubah konsep menjadi peluang investasi komersial. 

Ia menyadari bahwa meski kebutuhan infrastruktur di Asia melonjak akibat urbanisasi dan transformasi digital, tantangan seperti ruang fiskal yang terbatas, biaya pendanaan tinggi, dan risiko perubahan iklim tetap menjadi kendala utama.

Untuk itu, ASEAN terus mempererat kolaborasi lintas negara, mulai dari interkoneksi energi, jaringan transportasi, hingga infrastruktur digital yang tahan perubahan iklim. 

"ASEAN menyediakan platform untuk memperkuat konektivitas, berbagi pengalaman, dan menciptakan peluang yang mungkin tidak dapat dicapai oleh masing-masing negara secara individual," ujarnya.

Capuno menyimpulkan bahwa fokus utama saat ini bukan lagi sekadar visi pembangunan, melainkan memastikan seluruh proyek dapat segera beralih dari tahap perencanaan menuju implementasi yang lebih cepat dan efisien.

Terkini