Pentingnya Pahami Komposisi Tubuh Sebelum Memulai Diet dan Olahraga

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:08:01 WIB
Rahasia Program Diet dan Olahraga Efektif. (Foto: NET)

JAKARTA - Banyak orang yang langsung mendaftar ke pusat kebugaran atau mengikuti kelas intensitas tinggi dengan harapan dapat menurunkan berat badan dengan cepat. 

Sayangnya, tindakan terburu-buru tanpa data biologis yang akurat ini justru kerap tidak membuahkan hasil memuaskan, bahkan meningkatkan risiko cedera otot dan tulang. 

Angka pada timbangan konvensional ternyata tidak cukup sebagai tolok ukur kebugaran secara menyeluruh. Proses penilaian kondisi internal tubuh sangat penting agar program diet dan olahraga yang disusun dokter tidak salah sasaran.

"You can fix what you can measure. Jadi basically, kami memang harus cek apa yang terjadi di badan kami, baru kami bisa tahu kami harus ngapain sih," jelas dr. Febby Astari, IFMCP, dari Seraphim Medical Center, dalam sesi talkshow di Ageless Festival, Jakarta Selatan, Minggu (14/6/2026). 

Untuk melihat kondisi internal lebih mendalam, pasien disarankan melakukan cek laboratorium guna kebutuhan diagnostik medis yang spesifik.

Langkah klinis yang direkomendasikan adalah melakukan analisis menggunakan mesin body composition analysis seperti InBody. Dokter Dwi Kristanto Wongso, M.Biomed (AAM) atau dr. Kris menuturkan, alat tersebut mampu membedah elemen penyusun tubuh secara terperinci hingga level persentase. 

"Kami harus tahu badan kami. Misalnya berat badan kami 70 kilogram. Itu harus tahu ototnya berapa kilogram, lemaknya berapa kilogram, airnya berapa kilogram," tutur dr. Kris.

Angka berat badan ideal tidak selalu berbanding lurus dengan kesehatan jika lemak visceral masih mendominasi ruang gerak otot rangka. Pemeriksaan ini juga berguna mendeteksi masalah distribusi air dalam tubuh. 

"Jadi, pentingnya adalah kami supaya bisa tahu komposisinya seperti apa, dan kalau udah tahu komposisinya kayak gimana, kurangnya di mana, itu bisa kami perbaiki," lanjut dr. Kris. 

Informasi ini membantu dokter dan pasien menetapkan target realistis terkait massa otot dan persentase lemak.

Setelah mengetahui hasil analisis, seseorang baru dapat menyusun rencana latihan fisik yang spesifik. Misalnya, jika massa otot kurang, dr. Kris menyarankan strength training, angkat beban, atau kalistenik, alih-alih olahraga berisiko tinggi. 

"Kalau dari hasilnya kelihatan massa ototnya kurang, berarti kami perlu olahraga yang bisa meningkatkan massa otot," ucapnya. 

Sebaliknya, bagi mereka dengan penumpukan lemak tinggi, fokus utama adalah mengurangi massa lemak melalui olahraga kardio seperti berenang atau bersepeda.

Hasil mesin InBody juga menjadi acuan merancang diet harian untuk menghindari kesalahan pembatasan asupan yang merusak metabolisme. 

"Jadi, jangan sampai kami, 'Oh berat badannya ideal kok', sebenarnya padahal ototnya kurang, lemaknya yang banyak," ungkap dr. Kris. 

Kondisi fisik yang tampak kurus namun memiliki lemak tinggi sering mengecoh timbangan biasa. Pendekatan nutrisi yang terukur berdasarkan data ini jauh lebih efektif untuk mencapai kebugaran jangka panjang.

Terkini