JAKARTA - Ramadan sering dianggap sebagai bulan penuh berkah, namun pengeluaran rumah tangga cenderung meningkat. Tanpa perencanaan, biaya untuk sahur, berbuka, dan persiapan Lebaran bisa membuat dompet menipis.
Para perencana keuangan mengingatkan, pengeluaran bulan puasa bisa dua kali lipat dari biasanya jika tidak dikelola. Karena itu, masyarakat disarankan menyusun strategi sejak awal agar ibadah tetap tenang dan fokus.
Menyusun Anggaran Khusus Ramadan
Pengeluaran terbesar biasanya muncul dari belanja makanan dan kebutuhan sosial. Banyak keluarga membeli takjil, makanan siap saji, dan bahan pokok dalam jumlah besar tanpa disadari.
Membuat anggaran khusus Ramadan membantu pengeluaran tetap terkontrol. Pos-pos keuangan bisa dibagi menjadi kebutuhan sahur dan berbuka, sedekah atau zakat, persiapan Lebaran, serta tabungan setelah Ramadan.
Membedakan Ibadah dengan Konsumsi Berlebihan
Ramadan identik dengan kebersamaan, tetapi sering kali berubah menjadi ajang konsumsi berlebihan. Banyak orang mengeluarkan uang lebih untuk makanan, pakaian baru, atau dekorasi rumah.
Padahal esensi Ramadan adalah pengendalian diri, termasuk dalam berbelanja. Menahan diri dari pengeluaran impulsif membantu menjaga stabilitas ekonomi keluarga setelah Lebaran.
Memanfaatkan Momentum untuk Menabung
Meski pengeluaran meningkat, Ramadan bisa menjadi kesempatan memperbaiki kebiasaan keuangan. Mengalihkan uang yang biasa dipakai untuk jajan di luar menjadi tabungan bisa sangat bermanfaat.
Jika satu keluarga biasanya menghabiskan Rp50 ribu per hari untuk jajan, selama 30 hari potensi tabungan bisa mencapai Rp1,5 juta. Dana ini bisa dimasukkan ke tabungan darurat atau investasi sederhana untuk menjaga nilai uang dari inflasi.
Prioritaskan Zakat Tanpa Mengganggu Kebutuhan Pokok
Ramadan juga menjadi periode penting untuk menunaikan zakat dan sedekah. Para ahli keuangan menyarankan menghitung zakat sejak awal bulan agar tidak mengganggu kebutuhan pokok keluarga.
Mengalokasikan dana sosial di awal justru membuat pengeluaran lebih terukur. Strategi ini membantu menjaga keseimbangan keuangan sambil tetap menunaikan kewajiban ibadah.
Waspadai Lonjakan Pengeluaran Menjelang Lebaran
Minggu terakhir Ramadan biasanya memicu lonjakan pengeluaran. Tradisi membeli baju baru, hampers, dan kebutuhan mudik bisa membuat anggaran jebol jika tidak diantisipasi.
Agar tidak terjebak, masyarakat disarankan membuat daftar belanja Lebaran sejak awal, menetapkan batas maksimal, dan menghindari utang konsumtif. Tanpa perencanaan, Lebaran bisa meninggalkan cicilan panjang setelah bulan puasa berakhir.
Keseimbangan Finansial Membuat Ibadah Lebih Khusyuk
Ramadan bukan hanya soal ibadah spiritual, tetapi juga kesempatan memperbaiki kebiasaan hidup. Pengelolaan keuangan yang tepat membuat bulan puasa lebih tenang dan ibadah lebih khusyuk.
Dengan strategi yang matang, masyarakat bisa berbagi dengan ikhlas, menunaikan zakat, dan menyambut Lebaran tanpa tekanan ekonomi. Ramadan pun menjadi momentum memperkuat kondisi finansial keluarga sekaligus spiritualitas.