JAKARTA - Perubahan wajah pertanian mulai terlihat di Desa Gunung Maddah, Kecamatan Sampang, ketika lahan yang sebelumnya tidak produktif kini dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Warga setempat berhasil mengolah lahan tegal menjadi area bercocok tanam yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi keluarga. Upaya ini menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk menciptakan peluang baru di sektor pertanian.
Awalnya, sebagian besar petani hanya mengandalkan padi sebagai komoditas utama dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Seiring waktu, muncul kesadaran bahwa lahan kering dan kurang subur masih memiliki potensi untuk dikembangkan. Dari sinilah muncul inisiatif untuk mengelola lahan tersebut dengan pendekatan yang lebih inovatif dan adaptif.
Transformasi pertanian ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses pembelajaran dan pendampingan yang berkelanjutan. Petani mulai memahami pentingnya diversifikasi komoditas sesuai karakteristik lahan. Perubahan ini menjadi titik awal berkembangnya pertanian hortikultura di wilayah tersebut.
Peran Penyuluh Mendorong Inovasi Petani
Perubahan pola tanam di Desa Gunung Maddah tidak lepas dari peran aktif penyuluh pertanian lapangan. Koordinator Penyuluh Lapangan Kecamatan Sampang, Alif Risky Nursianki, menjelaskan bahwa transformasi ini telah mengubah lahan tegal menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
“Petani saat ini semakin pintar dalam membaca peluang pasar dan menyesuaikan komoditas dengan kondisi lahan. Dahulu hanya bertanam padi dan jagung, saat ini beberapa titik tegal sudah berubah menjadi lahan sayur dan buah,” ucap Risky.
Pendampingan yang dilakukan penyuluh menitikberatkan pada pemahaman potensi lokal dan kebutuhan pasar. Petani dibimbing untuk tidak hanya fokus pada satu komoditas, tetapi berani mencoba tanaman bernilai ekonomi tinggi. Pendekatan ini mendorong petani lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika harga pasar.
Melalui proses tersebut, petani mulai memiliki pola pikir yang lebih terbuka terhadap inovasi. Mereka tidak lagi melihat lahan kering sebagai keterbatasan, melainkan sebagai peluang. Hasilnya, produktivitas lahan yang sebelumnya terabaikan kini semakin meningkat.
Strategi Menjaga Swasembada Pangan Daerah
Di tengah pengembangan hortikultura, upaya menjaga swasembada pangan tetap menjadi prioritas utama. Para penyuluh pertanian terus mendorong peningkatan produktivitas padi dan jagung hibrida sebagai komoditas utama daerah. Langkah ini dilakukan agar keseimbangan antara inovasi dan ketahanan pangan tetap terjaga.
Pemanfaatan musim penghujan menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan hasil pertanian. Lahan produktif dimaksimalkan untuk padi, sementara lahan kering di dataran tinggi diarahkan untuk komoditas hortikultura. Pendekatan ini membuat siklus tanam menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.
“Petani semakin inovatif. Di musim hujan, masyarakat fokus ke padi, lahan kering yang di dataran tinggi saat ini juga sudah dimanfaatkan untuk menanam hortikultura. Hal ini membuat produktivitas lahan terjaga,” kata Risky. Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan pola pikir petani yang semakin strategis.
Hortikultura Menjadi Penggerak Ekonomi Baru
Komoditas hortikultura yang dikembangkan petani cukup beragam, mulai dari cabai, bawang merah, tomat, hingga melon. Tanaman tersebut dipilih karena memiliki nilai jual tinggi dan sesuai dengan kondisi lahan setempat. Pengelolaan yang tepat membuat hasil panen semakin stabil dari waktu ke waktu.
Hasil pertanian hortikultura tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. Seiring meningkatnya produksi, hasil panen mulai dipasarkan secara komersial ke pasar lokal. Dalam satu hari, petani mampu menyuplai hingga 30 kilogram hasil tani ke pasar.
Aktivitas ini memberikan dampak langsung terhadap pendapatan keluarga petani. Sumber penghasilan yang sebelumnya bergantung pada satu komoditas kini menjadi lebih beragam. Kondisi tersebut memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga di Desa Gunung Maddah.
Pertanian Inovatif Menuju Kesejahteraan Berkelanjutan
Keberhasilan petani memanfaatkan lahan tidak produktif menjadi contoh nyata pertanian berbasis inovasi lokal. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan lahan yang tepat mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Sinergi antara petani dan penyuluh menjadi kunci utama dalam proses perubahan ini.
Dengan pola tanam yang lebih variatif, risiko kegagalan panen dapat ditekan. Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu jenis komoditas dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Hal ini menciptakan sistem pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Ke depan, pengembangan pertanian hortikultura diharapkan terus diperluas dengan tetap menjaga keseimbangan pangan daerah. Inovasi yang telah berjalan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi desa. Desa Gunung Maddah pun berpotensi menjadi contoh pengelolaan pertanian adaptif di wilayah sekitarnya.