Nilai Impor Indonesia 2025 Capai US$241,86 Miliar Didominasi Barang Modal

Senin, 02 Februari 2026 | 15:45:24 WIB
Nilai Impor Indonesia 2025 Capai US$241,86 Miliar Didominasi Barang Modal

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan total nilai impor Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$241,86 miliar. Angka ini meningkat 2,83% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$235,20 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, merinci bahwa nilai impor terdiri dari migas sebesar US$32,77 miliar atau turun 9,67%. Sementara impor nonmigas mencapai US$209,09 miliar atau naik 5,11%.

Kenaikan Impor Barang Modal Jadi Pendorong Utama

Jika dilihat berdasarkan penggunaannya, kenaikan impor terbesar terjadi pada barang modal. Nilai impor barang modal tercatat US$50,13 miliar atau naik 20,06% dibandingkan tahun sebelumnya US$41,75 miliar.

“Ateng menyebutkan kenaikan impor barang modal terjadi pada mesin perlengkapan elektrik dan bagiannya (HS85), mesin perlengkapan mekanis dan bagiannya (HS84), serta kendaraan dan bagiannya (HS87),” ujarnya. Pertumbuhan ini memberikan kontribusi signifikan sebesar 3,56% terhadap total impor.

Di sisi lain, impor bahan baku atau bahan penolong justru turun 0,83% menjadi US$169,30 miliar. Begitu pula impor barang konsumsi menurun 1,35% menjadi US$22,42 miliar.

Negara Asal Impor Nonmigas Didominasi China, Jepang, dan AS

BPS mencatat tiga negara pengimpor nonmigas terbesar adalah China, Jepang, dan Amerika Serikat. Ketiganya menyumbang 53,20% dari total impor nonmigas Indonesia sepanjang 2025.

Impor nonmigas dari China mencapai US$86,99 miliar, didominasi oleh mesin dan peralatannya serta peralatan mekanis (HS84) dengan pangsa 22,69%. Pertumbuhannya tercatat 13,34% secara cumulative-to-cumulative (ctc).

Sementara itu, impor nonmigas dari Jepang sebesar US$14,42 miliar, juga didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis (HS84) dengan share 21,54%. Pertumbuhannya tercatat 2,74% secara ctc.

Berikutnya, impor nonmigas dari Amerika Serikat tercatat US$9,84 miliar. Produk utama yang diimpor dari AS adalah mesin dan peralatan mekanis (HS84) dengan share 18,56%, tumbuh 18,81% ctc.

Impor Mesin dan Peralatan Jadi Fokus Utama Pertumbuhan

Data BPS menunjukkan tren meningkatnya permintaan mesin dan peralatan mekanis menjadi faktor utama kenaikan impor. Kebutuhan ini terkait modernisasi industri dan pengembangan infrastruktur dalam negeri.

Meski impor migas menurun, peningkatan barang modal menandakan Indonesia tetap bergantung pada teknologi dan peralatan dari luar negeri. Hal ini juga mencerminkan upaya sektor industri untuk meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi.

Penurunan impor bahan baku menunjukkan pergeseran pola konsumsi dan produksi dalam negeri. Barang konsumsi yang menurun juga menandakan masyarakat lebih selektif dalam belanja barang impor.

China tetap menjadi pemasok utama karena memiliki jaringan produksi mesin dan komponen mekanis terbesar. Jepang dan AS melengkapi kebutuhan mesin dan peralatan spesifik untuk industri manufaktur Indonesia.

Kenaikan impor barang modal memberikan dampak ganda terhadap perekonomian. Di satu sisi, meningkatkan produktivitas industri; di sisi lain, menambah ketergantungan pada impor teknologi dan suku cadang.

Dengan data BPS ini, pemerintah bisa memetakan strategi pengembangan industri dalam negeri. Fokus utama dapat diarahkan pada substitusi impor sekaligus peningkatan kapasitas manufaktur lokal.

Tren kenaikan impor mesin dan kendaraan menunjukkan adanya percepatan modernisasi sektor industri. Hal ini penting untuk mendukung proyek-proyek infrastruktur besar dan program industri nasional.

Di sisi konsumsi, penurunan impor barang konsumsi memberikan ruang bagi produk lokal untuk bersaing. Pemerintah dapat mendorong produksi dalam negeri agar lebih mandiri dan mengurangi defisit perdagangan.

China, Jepang, dan AS tetap menjadi partner strategis dalam penyediaan barang modal. Hal ini menegaskan posisi Indonesia dalam rantai pasok global untuk sektor manufaktur dan teknologi.

Pertumbuhan impor mesin elektrik, mekanis, dan kendaraan mencerminkan peningkatan investasi di sektor industri. Pemerintah dapat memanfaatkan data ini untuk mendorong kebijakan yang memperkuat industri lokal dan menciptakan lapangan kerja.

Kenaikan 20,06% pada barang modal adalah sinyal bahwa sektor industri nasional semakin dinamis. Dengan dukungan infrastruktur dan kebijakan, pertumbuhan ini bisa menjadi motor penggerak ekonomi lebih luas.

Sementara itu, penurunan impor bahan baku dan barang konsumsi menunjukkan adanya stabilisasi kebutuhan domestik. Hal ini menjadi indikasi bahwa industri lokal mulai memenuhi sebagian kebutuhan pasar dalam negeri.

BPS juga menekankan pentingnya pemantauan impor secara berkelanjutan. Data ini menjadi dasar perumusan kebijakan perdagangan dan strategi industrialisasi nasional.

Kebijakan untuk meningkatkan produksi lokal sekaligus menjaga arus impor tetap seimbang menjadi penting. Dengan strategi yang tepat, pertumbuhan impor dapat mendukung pembangunan industri tanpa menimbulkan defisit yang berlebihan.

Dalam konteks global, Indonesia harus tetap memperkuat hubungan perdagangan dengan China, Jepang, dan AS. Mesin dan peralatan dari ketiga negara ini tetap menjadi kebutuhan strategis bagi pertumbuhan industri nasional.

Tren impor ini juga menyoroti peluang untuk meningkatkan transfer teknologi. Dengan penguasaan teknologi, industri lokal dapat mengurangi ketergantungan pada impor barang modal tertentu.

Secara keseluruhan, BPS mencatat total nilai impor 2025 sebesar US$241,86 miliar sebagai indikator dinamika perdagangan Indonesia. Perkembangan ini menjadi bahan evaluasi penting bagi strategi industrialisasi dan perdagangan dalam negeri.

Terkini

Nuklir Jadi Pilar Strategis Kemandirian Energi Nasional

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

Kilang Balongan Perkuat Distribusi Energi Nasional Terpadu

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

OPEC Plus Pertahankan Produksi Demi Keseimbangan Minyak

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

Program MyPertamina Fair Dorong Loyalitas Konsumen BBM

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:58 WIB