Kenaikan Harga TBS Kelapa Sawit di Sumatera Utara Capai Rp 116 Per Kg

Senin, 02 Februari 2026 | 10:33:05 WIB
Kenaikan Harga TBS Kelapa Sawit di Sumatera Utara Capai Rp 116 Per Kg

JAKARTA - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Sumatera Utara kembali menunjukkan penguatan pada akhir Januari hingga awal Februari 2026. Kenaikan ini memengaruhi tanaman usia 10–20 tahun dengan penetapan harga baru sebesar Rp 3.634,28 per kg.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga TBS

Kenaikan harga TBS tidak lepas dari penguatan harga minyak sawit mentah atau CPO. Pada periode ini, harga CPO ditetapkan sebesar Rp 14.766,60 per kg, sementara harga kernel berada di level Rp 12.265,75 per kg.

Indeks K berada di angka 92,81% dan menjadi salah satu faktor utama penguatan harga TBS. Penyesuaian harga referensi CPO dan kernel secara langsung memengaruhi perhitungan harga TBS di tingkat petani.

Peningkatan harga CPO dan kernel mencerminkan permintaan pasar yang stabil. Hal ini mendorong produsen dan petani sawit untuk tetap optimis menghadapi awal tahun 2026.

Rincian Harga TBS Berdasarkan Umur Tanaman

Harga TBS kelapa sawit bervariasi sesuai umur tanaman. Untuk tanaman berumur 3 tahun, harga ditetapkan Rp 2.816,14 per kg, sementara umur 4 tahun Rp 3.083,67 per kg.

Tanaman usia 5 tahun dihargai Rp 3.266,42 per kg, dan umur 6 tahun naik menjadi Rp 3.358,88 per kg. Tanaman berumur 7 tahun dijual Rp 3.389,05 per kg, sedangkan umur 8 tahun Rp 3.479,64 per kg.

Untuk umur 9 tahun, harga TBS mencapai Rp 3.545,20 per kg. Sedangkan tanaman usia 10–20 tahun mendapat harga tertinggi Rp 3.634,28 per kg, menunjukkan kenaikan signifikan dari periode sebelumnya.

Tanaman berumur 21 tahun dihargai Rp 3.626,96 per kg dan umur 22 tahun Rp 3.578,99 per kg. Umur 23 tahun: Rp 3.543,36 per kg, umur 24 tahun: Rp 3.425,50 per kg, dan umur 25 tahun: Rp 3.319,97 per kg.

Kenaikan harga TBS ini memberikan keuntungan langsung bagi petani di Sumatera Utara. Petani dapat merencanakan produksi dan distribusi dengan lebih baik menghadapi tren harga yang naik.

Dampak Kenaikan Harga Bagi Industri dan Petani

Penguatan harga TBS turut mendorong stabilitas pemasukan petani sawit. Hal ini penting untuk mendukung biaya operasional, perawatan kebun, dan investasi pembaruan tanaman.

Selain itu, harga CPO yang tinggi memacu pabrik pengolahan untuk meningkatkan produksi. Peningkatan produksi CPO ini juga akan berdampak pada perdagangan ekspor yang lebih menguntungkan bagi industri kelapa sawit nasional.

Para petani di Sumut kini lebih termotivasi untuk mempertahankan kualitas TBS. Kualitas yang baik akan menjaga harga tetap tinggi dan meningkatkan daya saing di pasar lokal maupun internasional.

Harga kernel yang ikut menguat menjadi tambahan faktor yang menguntungkan produsen. Kernel menjadi produk turunan penting dari TBS, sehingga kenaikannya ikut memberi manfaat ekonomi tambahan.

Peningkatan harga ini juga menjadi sinyal positif bagi investor di sektor perkebunan. Kenaikan harga TBS yang stabil menciptakan prospek investasi yang lebih menarik dan risiko yang lebih terkendali.

Selain faktor pasar, kebijakan pemerintah terkait ekspor CPO dan pungutan BK turut memengaruhi harga TBS. Penyesuaian ini memastikan harga tetap kompetitif di pasar internasional.

Dengan kenaikan ini, petani dan industri sawit dapat memprediksi pendapatan dan biaya produksi secara lebih tepat. Hal ini membantu perencanaan keuangan dan strategi pemasaran di awal tahun 2026.

Perubahan harga TBS juga berdampak pada rantai pasok industri sawit. Pabrik, eksportir, dan distributor harus menyesuaikan harga jual produk akhir agar tetap menguntungkan.

Kenaikan harga TBS di Sumut sejalan dengan tren harga CPO global yang menunjukkan peningkatan. Hal ini menunjukkan ketergantungan harga TBS domestik terhadap fluktuasi pasar internasional.

Petani disarankan untuk memantau harga TBS secara rutin. Informasi yang up-to-date membantu mereka menentukan waktu penjualan yang paling menguntungkan.

Kenaikan harga TBS ini juga menjadi sinyal perbaikan ekonomi di sektor perkebunan. Pertumbuhan sektor ini akan berkontribusi pada pendapatan regional Sumatera Utara secara keseluruhan.

Petani yang memiliki tanaman tua kini memperoleh keuntungan lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Hal ini dapat meningkatkan motivasi untuk memperbaiki kebun dan melakukan perawatan rutin.

Harga TBS yang stabil juga berdampak positif pada industri pengolahan minyak sawit. Pabrik dapat merencanakan kapasitas produksi dan pengadaan bahan baku dengan lebih efisien.

Selain itu, penguatan harga TBS mendorong persaingan sehat antar petani. Persaingan ini dapat memacu peningkatan kualitas dan kuantitas produksi TBS di setiap kebun.

Dengan harga TBS Sumut yang naik, diharapkan distribusi pendapatan di sektor perkebunan lebih merata. Petani kecil pun dapat menikmati keuntungan yang lebih besar dari hasil produksi mereka.

Kenaikan harga TBS di Sumatera Utara menjadi indikator positif bagi pertumbuhan ekonomi regional. Sektor perkebunan tetap menjadi salah satu penyumbang utama pendapatan masyarakat lokal.

Pemerintah dan dinas terkait diharapkan terus memantau perkembangan harga. Monitoring ini penting agar kebijakan dan regulasi yang diterapkan tetap sesuai kebutuhan petani dan industri.

Dengan pemantauan yang tepat, kenaikan harga TBS dapat menjadi peluang meningkatkan kesejahteraan petani. Strategi harga yang stabil juga mendukung pertumbuhan industri sawit yang berkelanjutan di Sumatera Utara.

Terkini

Nuklir Jadi Pilar Strategis Kemandirian Energi Nasional

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

Kilang Balongan Perkuat Distribusi Energi Nasional Terpadu

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

OPEC Plus Pertahankan Produksi Demi Keseimbangan Minyak

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

Program MyPertamina Fair Dorong Loyalitas Konsumen BBM

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:58 WIB